Rabu, 03 Juli 2013

ROKOK DAN KACAMATA



 Friends…. Nek aku amati lalu tak ucek-ucek mataku, kacamata banyak persamaan dengan rokok. Apakah itu???  Mari kita simak friends…

     Okeylah friends… Rokok adalah zat aditif yang bisa mengcandu. Pernah ku nongkrong bersama temen ku, tak banyak obral ngkrumpi temenku langsung mewawancara aku….

      Temen : Brow, kenapa nt gak merokok???
      Aku     : Aku takut himbauan yang tertulis dalam bungkusnya.
      Temen : Gpp brow, jangan takut. Kan aku belinya batangan gak pake bungkusnya.
      Aku     :  Hahahha… ( dari pada ngempet ngguyu)

      Friends itu hanya sedekar guyon, beli rokok batangan atau bungkusan tetap aja beli yang akhirnya diempot. Apakah yang mebuat orang tertipu daya pada rokok, mungkin karena zat yang mengcandu pada sebuah rokok. Lalu salahkah rokok diproduksi dengan slogan himbuan dalam bungkusnya??? Jika akhirnya kata-kata itu diacuhkan. Mungkin bagi pengcandu rokok, rokok adalah benda yang membuat mereka bergairah hingga selalu beropini “walau kantong hangus yang penting mulut gak bau prengus”…hehehe

      Mungkin nasib rokok bagi pengcandunya bersinonim dengan nasib kacamata yang melekat di mataku. Okeylah… friends bolehkah aku menceritakan kisah putih abu-abuku..??? sedikit cerita aja, Dua tahun aku berjuang melawan miopi ini, kerena pada waktu itu hatiku masih malu melihat kacamata nangkring di kedua mataku, hingga menghantarkan rasa kurang percaya diri. Duduk ku yang spesialis bangku mburi, membuat tulisan di papan tulis kabur melarikan diri setiap aku lihatnya. Hingga setiap guru yang bersosialisasi ilmu sesuai dengan bidangnya, aku hanya bisa mendengarkannya jika menerangkan di papan tulis mataku kabur melihatnya, seakan tulisan lari maraton melarikan diri ketika ku lirik. Mungkin pahlawan pada waktu itu adalah teman sebangku ku… ya karena jika guru menerangkan dalam papan tulis aku hanya bisa minjam catatan temenku, mungkin tanpa temenku buku tulisku bersih serasa habis merayakan idul fitri.  Dua tahun aku berjuang menahan miopi ini, sampai akhirnya di kelas XII aku kapok karena kacamata yang mengiming-iming miopiku, hingga sampai sekarang kacamata itu membuat mengcandu yang enggan bila ku lepaskan. Mungkin keberadaan kacamata ini juga menolong kalian, karena jika ku lihat kalian dari jauh masih nyata terlihat cantik dan ganteng…hehehhe

    Rokok dan kacamata, dua benda berbeda dari sisi dimensi tapi bisa menghantarkan efek mengcandu bagi pemakainya, dari sisi perbedaan juga ada, jika rokok di konsumsi bisa membuat penderitaan tapi jika kacamata dipakai karena sebuah penderitaan….

Sabtu, 15 Juni 2013

DEMI BELIAU.....



Masih ingat dalam memori simphony kecilku, ketika kita duduk di pinggiran sawah sambil menikmati olahan masakan ibunda. Aku bertanya pada beliau, “Apa harapan Bapak pada aku?”. Sambil tersenyum simpul engkau mengusap rambutku, “ Bapak ingin melihat salah satu dari anakku menjadi sarjana”. Tapi entah kenapa diselah senyummu menjadi mendung di bola matamu. Aku tau, aku adalah anak bungsu, yang menjadi harapan terakhir untuk mewujudkan apa yang dicitakanmu. 

Sampai SMA aku masih ingat benar kata-kata itu, sehingga ketika aku menanggalkan seragam putih abu-abuku, aku putuskan mengembara di metropolitan. Dengan bekal restu dari keluarga, aku ikut syaimbara di pasar minggu dalam merebutkan kursi SNMPTN. Mungkin ketika mengikuti test SNMPTN, mempunyai kesan tersendiri bagiku apalagi ruanganku dibuat geger dengan salah satu pesertanya adalah bintang TOP sinetron. Dia adalah NIKITA PURNAMA WILLY. Bintang sinetron yang biasanya ku lihat di layar TV polytron, kini nyata dalam kasat mata bukan sekedar menonton. Nyali sempat menyiut, bersanding dan bertanding dengan artis pelakon Safa dan Marwah , tapi aku tak mau membanding karena disini kita sama berpangkat peserta SNMPTN.

7 Juli 2012, mungkin itu adalah memori yang mengukir prasasti bahagiaku ketika aku dinyatakan diterima SNMPTN tertulis. Dan aku tau ini adalah tantangan bagiku, selain harus hidup jauh dari keluarga juga harus menghijrahkan besic. Ya... Aku berbesic IPA ketika berseragam putih abu-abu, dan kini aku harus menggeluti bidang IPS karena aku diterima di Program studi IPS di kampus yang beralmet hijau. Dan aku tau waktu menuntutku untuk beradaptasi, bahkan bermetamorfosis hingga berkamuflase ke IPS. Perlahan akupun akan beradaptasi hingga bisa mengubah tokoh idola ISAC NEWTON menjadi KARL MAX, mengubah GAYA LORENTZ menjadi KURVA LORENTZ, serta Mengkombinasikan rumus dengan kamus. Dan beliaulah yang selalu menguatkan aku.



Kehidupan di Jakarta pun tak lepas dari perjuangan, karena ibu kota tak sebaik ibu kita. Bahkan ada yang berslogan ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Memang jakarta tertafsir keras dan penuh dengan perjuangan. Kadang kompleksitas di kota ini aku pun alami, perbedaan logat mungkin yang sering banyak dikeluhkan. Aku hanya belajar tak menghiraukan, ketika mereka mempermasalahkan medoknya bahasaku. Karena aku tau jakarta adalah multikultural bahasa, karena penghuninya berasal dari berbagai penjuru pulau negeri ini. Hingga pada hakikatnya kompleksitas bukanlah cemoohan tapi suatu toleransi. Dan aku tak ingin mengeluh dengan keadaan, tapi aku akan memperjuangkan cita-citaku demi harapan beliau, melihat gelar sarjana bersinggah di salah satu anaknya............................