Sabtu, 15 Juni 2013

DEMI BELIAU.....



Masih ingat dalam memori simphony kecilku, ketika kita duduk di pinggiran sawah sambil menikmati olahan masakan ibunda. Aku bertanya pada beliau, “Apa harapan Bapak pada aku?”. Sambil tersenyum simpul engkau mengusap rambutku, “ Bapak ingin melihat salah satu dari anakku menjadi sarjana”. Tapi entah kenapa diselah senyummu menjadi mendung di bola matamu. Aku tau, aku adalah anak bungsu, yang menjadi harapan terakhir untuk mewujudkan apa yang dicitakanmu. 

Sampai SMA aku masih ingat benar kata-kata itu, sehingga ketika aku menanggalkan seragam putih abu-abuku, aku putuskan mengembara di metropolitan. Dengan bekal restu dari keluarga, aku ikut syaimbara di pasar minggu dalam merebutkan kursi SNMPTN. Mungkin ketika mengikuti test SNMPTN, mempunyai kesan tersendiri bagiku apalagi ruanganku dibuat geger dengan salah satu pesertanya adalah bintang TOP sinetron. Dia adalah NIKITA PURNAMA WILLY. Bintang sinetron yang biasanya ku lihat di layar TV polytron, kini nyata dalam kasat mata bukan sekedar menonton. Nyali sempat menyiut, bersanding dan bertanding dengan artis pelakon Safa dan Marwah , tapi aku tak mau membanding karena disini kita sama berpangkat peserta SNMPTN.

7 Juli 2012, mungkin itu adalah memori yang mengukir prasasti bahagiaku ketika aku dinyatakan diterima SNMPTN tertulis. Dan aku tau ini adalah tantangan bagiku, selain harus hidup jauh dari keluarga juga harus menghijrahkan besic. Ya... Aku berbesic IPA ketika berseragam putih abu-abu, dan kini aku harus menggeluti bidang IPS karena aku diterima di Program studi IPS di kampus yang beralmet hijau. Dan aku tau waktu menuntutku untuk beradaptasi, bahkan bermetamorfosis hingga berkamuflase ke IPS. Perlahan akupun akan beradaptasi hingga bisa mengubah tokoh idola ISAC NEWTON menjadi KARL MAX, mengubah GAYA LORENTZ menjadi KURVA LORENTZ, serta Mengkombinasikan rumus dengan kamus. Dan beliaulah yang selalu menguatkan aku.



Kehidupan di Jakarta pun tak lepas dari perjuangan, karena ibu kota tak sebaik ibu kita. Bahkan ada yang berslogan ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Memang jakarta tertafsir keras dan penuh dengan perjuangan. Kadang kompleksitas di kota ini aku pun alami, perbedaan logat mungkin yang sering banyak dikeluhkan. Aku hanya belajar tak menghiraukan, ketika mereka mempermasalahkan medoknya bahasaku. Karena aku tau jakarta adalah multikultural bahasa, karena penghuninya berasal dari berbagai penjuru pulau negeri ini. Hingga pada hakikatnya kompleksitas bukanlah cemoohan tapi suatu toleransi. Dan aku tak ingin mengeluh dengan keadaan, tapi aku akan memperjuangkan cita-citaku demi harapan beliau, melihat gelar sarjana bersinggah di salah satu anaknya............................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar