Masih ingat dalam
memori simphony kecilku, ketika kita duduk di pinggiran sawah sambil menikmati
olahan masakan ibunda. Aku bertanya pada beliau, “Apa harapan Bapak pada aku?”.
Sambil tersenyum simpul engkau mengusap rambutku, “ Bapak ingin melihat salah
satu dari anakku menjadi sarjana”. Tapi entah kenapa diselah senyummu menjadi
mendung di bola matamu. Aku tau, aku adalah anak bungsu, yang menjadi harapan
terakhir untuk mewujudkan apa yang dicitakanmu.
Sampai SMA aku masih
ingat benar kata-kata itu, sehingga ketika aku menanggalkan seragam putih
abu-abuku, aku putuskan mengembara di metropolitan. Dengan bekal restu dari
keluarga, aku ikut syaimbara di pasar minggu dalam merebutkan kursi SNMPTN.
Mungkin ketika mengikuti test SNMPTN, mempunyai kesan tersendiri bagiku apalagi
ruanganku dibuat geger dengan salah satu pesertanya adalah bintang TOP sinetron. Dia
adalah NIKITA PURNAMA WILLY. Bintang sinetron yang biasanya ku lihat di layar
TV polytron, kini nyata dalam kasat mata bukan sekedar menonton. Nyali sempat
menyiut, bersanding dan bertanding dengan artis pelakon Safa dan Marwah ,
tapi aku tak mau membanding karena disini kita sama berpangkat peserta SNMPTN.
7 Juli 2012, mungkin
itu adalah memori yang mengukir prasasti bahagiaku ketika aku dinyatakan
diterima SNMPTN tertulis. Dan aku tau ini adalah tantangan bagiku, selain harus
hidup jauh dari keluarga juga harus menghijrahkan besic. Ya... Aku berbesic IPA
ketika berseragam putih abu-abu, dan kini aku harus menggeluti bidang IPS
karena aku diterima di Program studi IPS di kampus yang beralmet hijau. Dan aku
tau waktu menuntutku untuk beradaptasi, bahkan bermetamorfosis hingga
berkamuflase ke IPS. Perlahan akupun akan beradaptasi hingga bisa mengubah
tokoh idola ISAC NEWTON menjadi KARL MAX, mengubah GAYA LORENTZ menjadi KURVA
LORENTZ, serta Mengkombinasikan rumus dengan kamus. Dan beliaulah yang selalu
menguatkan aku.
Kehidupan di Jakarta
pun tak lepas dari perjuangan, karena ibu kota tak sebaik ibu kita. Bahkan ada
yang berslogan ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Memang jakarta tertafsir
keras dan penuh dengan perjuangan. Kadang kompleksitas di kota ini aku pun
alami, perbedaan logat mungkin yang sering banyak dikeluhkan. Aku hanya belajar
tak menghiraukan, ketika mereka mempermasalahkan medoknya bahasaku. Karena aku
tau jakarta adalah multikultural bahasa, karena penghuninya berasal dari
berbagai penjuru pulau negeri ini. Hingga pada hakikatnya kompleksitas bukanlah
cemoohan tapi suatu toleransi. Dan aku tak ingin mengeluh dengan keadaan, tapi
aku akan memperjuangkan cita-citaku demi harapan beliau, melihat gelar sarjana
bersinggah di salah satu anaknya............................

Tidak ada komentar:
Posting Komentar