Sabtu, 25 Oktober 2014

NURMALA



Esok cerah, pagi membangunkan mimpi. Sinar mentari mengusir pekatnya malam, menandakan hari berganti. Hari yang menjadi pengukir prasasti mereka, dimana hari akan menjadi jawaban endingnya cerita putih abu-abu. Kini papan pengumuman, seakan tempat lautan kerumutan, berebut demi melihat selembar kertas lebar. YES LULUS...... kata yang terucap dari seorang pemuda, ia pun lari mencari sosok gadis yang bernama Nurmala. Senyum dan bangga langsung memecah pandangan mereka sambil mencuri untuk saling menatap. Rasa senyum kini menjadi linang, sekali ia memandang lagi. Mereka tau, lulus berarti akan memberikan cerita berbeda dimana mereka harus menjalani kisah bertarung dengan jarak. Ya.... Nurmala akan melanjutkan studinya ke semarang demi mempersinggahkan harapan orang tuanya untuk menjadi guru. Sementara Hasan harus merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Kisah cinta mereka memang sudah terjalin selama setahun, cinta yang ia jalani tanpa memandang status sosial. Nurmala adalah anak seorang guru yang dibesarkan dengan denyut nadi keserba adaan. Tapi nurmala adalah sosok sederhana tampil apa adanya tanpa memamerkan berasesories glamor. Sosok sederhana itulah yang memikat Hasan, yang bisa menaikkan kelasnya dari terpikat menjadi cinta melekat. Sementara hasan adalah anak petani, yang hidup bukan keserbaadaan tapi ia mensyukuri keapaadaan. Ia pun menyadari, keadaan tak mungkinkan ia untuk kuliah hingga ia memutuskan untuk bekerja.

Ia tau sosok wanita yang ia cintai, telah menandakan adanya jurang yang bernama status sosial. Apalagi hasan tak pernah direstui oleh orang tuanya nurmala untuk berhubungan dengan anaknya. Apalagi kalau bukan kontrasnya perbedaan pada status sosial mereka. Ibunya hanya mengizinkan anaknya berhubungan dengan anak kuliahan, sementara hasan kini statusnya adalah anak kuli payahan di metropolitan. Kadang keadaan inilah yang mempertekuk lututkan hasan pada pilihan kepasrahan untuk membiarkan nurmala bahagia dengan orang lain. Sekali lagi, nurmala bukanlah gadis yang mementingkan status sosial, ia selalu memotivasi hasan untuk memperjuangkan cintannya. Karena ia tau, bahagia adalah bersama dengan orang yang berhasil membahagiakan hatinya, bukan membeli kebahagiaan hatinya dengan harta ataupun keserba adaan.

Setahun hasan giat bekerja mengumpulkan uang demi bisa mengecap perguruan tinggi tentunya juga demi gadis yang ia perjuangkan. Selama setahun ia bekerja di swalayan sebagai kasir, dari jerih payahnya inilah ia bisa menyisihkan uang untuk kuliah.

Hari itu adalah hari pendaftaran kuliah, dengan modal tekat dengan diboncengi nekat ia mendaftar kuliah. Alhasil dia bisa diterima di perguruan tinggi negeri. Tapi apa daya uang yang ia sisihkan untuk kuliah dari hasil jerih payahnya tak bisa menebus untuk biaya pendaftaran ulang. Ia pun dikejar-kejar bingung, haruskah ia kuliah ? sementara uangnya buat daftar ulang pun tak cukup. Ia hanya berserah pada Tuhan, minta petunjuk jalan terbaik. Keesokkan harinya ia pergi ke bank untuk melakukan pendaftaran ulang dengan sisa uang kurangnya pinjam dari temannya, tak disangka pihak bank mengkonfirmasikan bahwa ia termasuk salah satu penerima beasiswa jadi tak usah membayar uang pendaftaran ulang. Betapa senangnya hati hasan, bahwa ia kini bisa merasakan bangku perguruan tinggi. Harapan untuk pembuktian pada orang tua nurmala masih ada. Pegang teguhnya meyakinkan diri.

Untuk menunjang kebutuhan sehari-hari sehabis kuliah, hasan bekerja dengan pamannya sebagai tukang jualan buah. Lelah memang kadang menjangkit tubuhnya tapi inilah pilihan hidupnya, untuk memegang komitmen dan memelihara komitmen itu agar tak punah dengan keluhan hidup. Ia tak mau menggantungkan nafasnya pada keluarganya di kampung, ia ingin mandiri untuk menggadaikan keringatnya demi keberhasilan. Ia ingin membuat melek ibunya nurmala, bahwa anak seorang petani pun mempunyai keberhasilan setara dengan anak-anak profesi apapun. Ia yakin Tuhan tak akan pilih kasih dalam pada nasib setiap hamba-Nya, tak memandang apapun sebuah profesi orang tua dimana anak tersebut dilahirkan.

Nurmala, seorang gadis yang selalu mendonori semangat dalam setiap menaklukkan kerasnya hidup. Dan nurmala juga, cahaya yang menyinari kala gairahnya mulai meredup. Maka ia yakin dialah gadis yang pantas ia perjuangkan. Perjuangkan dengan komitmen, dimana jarak tak akan memacetkan jalan cintanya. Cinta tunggal pada sesama yang tak pernah ia duakan, dan cintanya juga yang tak pernah ia gadaikan setianya untuk orang lain. 

Nurmala memang kuliah setahun lebih dahulu dari Hasan, artinya ia akan lulus lebih dahulu dari Hasan. Itu terjadi, setelah menyelesaikan 4 tahun studinya nurmala lulus dengan prestasi yang membanggakan. Betapa senangnya orang tuanya memandang anaknya lulus dengan predikat salah satu lulusan terbaik di universitasnya. Harapan orang tua melihat anak pertamanya menjadi sarjana terbaik tercapai, dan sebentar lagi ia akan jadi guru. Seperti itu angan yang terlintas dari orang tuanya. Tak lama kemudian ia pun menjadi seorang guru di salah satu SMA di kampungnya.

Penantian nurmala pada hasan tak menjenuhkan cintanya sedikit pun, ia setia menunggu hasan dalam menyelesaikan studinya. Karena ia yakin dialah sosok yang mampu membahagiakan hatinya.

. . . . .
Sepi merasuk dalam suasana, di dapur suara penggorengan pun mengusir suasana sepi itu.
“Ibuuuu...... cobain deh masakan nurmala? Pasti ibu suka?” teriaknya
“ Iya enak tapi terlalu asin” apa kamu pingin mau nikah ya? Ledek ibunya.
“Akh ibu, nurmala kan baru saja lulus masa’ pingin cepet nikah” ambegnya.
“ Tadi malam ibu sudah rembugkan sama bapak, kita sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan anak temen bapak kamu. Orangnya ganteng, dia seorang polisi. Kamu kan sudah cukup berumur, usiamu sudah 23 tahun. Itu sudah termasuk usia cukup seorang wanita  untuk nikah” jawab ibunya dengan serius.
“ gak bu, nurmala hanya ingin nikah pada sosok yang nurmala cintai” tegasnya.
“Maksudmu sama hasan? ia hanya anak seorang petani, apa yang kamu banggakan pada sosok seperti dia. Mau beri makan apa anak-anakmu nanti” omel ibunya.
“Apakah harta akan memberi kita bahagia bu? Apakah harta bisa membeli kebahagiaan? Dan apakah status sosial penghambat kebahagiaan bu?” rintihnya.
“Gak, pokoknya kamu harus nikah dengan anak temen bapak kamu. Ibu tak memaksa waktunya yang penting kamu siap nikah dengannya” tegas ibunya.
“Nurmala, ingin tanya. Apakah ibu nikah dengan bapak, bapak anak orang kaya?” aduhnya.
“Jaman dulu kan beda, dengan jaman sekarang. Ibu gak mau tau kamu harus nikah dengan pemuda itu” bentak ibunya.

Tak ada jawaban lagi pada gadis itu, ia langsung lari ke kamar menumpahkan segala tangisnya pada ketidak adilan. Hatinya dijajah bingung apa yang akan ia katakan pada hasan kalau ia tau. Apakah ia akan tega cinta yang dirawat selama 5 tahun begitu saja ia akan berikan pada orang lain. Dihatinya hanya ada hasan, ia tak akan pernah tega dengan pejuangan hasan selama ini. Dan yang paling meneror hatinya adalah apakah dia sanggup pura-pura bahagia dengan orang bukan pilihannya. Bingung itulah episode dalam hatinya saat itu.
Ia pun menceritakan kejadian itu pada hasan, tapi nurmala meyakinkan hasan bahwa cintanya untuk dirinya. Ia akan berjuang bersama hasan untuk meyakinka orang tuanya. Tak dipungkiri keadaaan dilematis menerpa hasan.

“Jika bahagiamu bukan sama aku, aku rela melihat senyummu dengan orang lain. Asal restu orang tua memberimu” tanya hasan.
“Dimana aku akan bahagia, jika aku hanya sanggup berpura-pura tersenyum dengan orang lain” jawab nurmala.
“Tapi apakah orang tuamu akan bahagia, melihat pendamping hidup sosok seperti aku?” tanya baliknya.
“kamu jangan ngomong seperti itu. Kita berjuang bersama meyakinkan orang tuaku. Ketahuilah jangan memaksa aku bahagia dengan orang lain, jika bahagiaku hanya untukmu” imbuh nurmala meyakinkan hasan.

Hari berotasi ke hari, dan saat itu kejadian pun telah tiba. Dimana rombongan dari teman bapaknya nurmala datang ke rumahnya untuk menanyakan perihal tunangan anaknya.
“Nurmala..... sini nak?” Panggil ibunya.
“Yaaaaaaaa... buu” sautnya.
“Kenalin ini Rendi. Calon tunanganmu. Dia kesini bersama rombongan untuk menanyakan perihal tentang tunangan dengan kamu” jelas ibunya.
“apa?” kagetnya
“iyaa.. seperti yang ibu ceritakan beberapa hari yang lalu” ingatin ibunya.
“aku tidak bisa menjawab sekarang bu, beri aku waktu untuk memutuskan” imbuhnya.
“berapa hari?” tanya Rendi
“tiga bulan” jawab nurmala
“Yauda, aku tunggu” rendi menyanggupi.

Ia langsung ke kamar, karena baginya kamarlah tempat yang mau mendengarkan curhatannya. Ia tumpahkan segala kesedihannya. Ia mendemo pada sunyi, seakan hidup ini tidak adil. Seakan hidup ingin memaksakan bulan dengan mentari, yang akan pernah sanggup untuk bersatu. Ia selalu berdo’a pada Allah, agar memberi jalan terbaik pada keputusannya.

Ia pun keluar dari kamar, dan ia menghampiri bapaknya yang lagi nonton tv di ruang tamu.
“Nurmala, ingin tanya pada bapak. Apakah air dan minyak sanggup bersatu walau dipaksakan bercampur?” tanyanya.
“Air dan minyak tak akan bersatu. Kenapa kok nurmala tanya begitu?” jelas bapaknya sambil penasaran.
“Begitu pun nurmala pak, nurmala tak akan pernah bahagia jika dijodohkan dengan bukan pilihan nurmala. Walau pun bapak memaksa, nurmala tak sanggup untuk berpura-pura bahagia. Apa bapak akan tega melihat itu?” jawabnya sambil berkaca-kaca bola matanya.
“Iya bapak merasakan apa yang kamu rasakan. Bapak juga tau cintamu hanya untuk hasan. Bapak juga sebenarnya tak memaksakan perjodohan ini. Tapi ini kemauan ibumu. Kamu tau sendiri kan watak ibumu?” jawab bapaknya.
“Makanya nurmala bilang sama bapak. Karena nurmala tau ibu keras kepala. Ku harap bapak mau meluluhkan hati ibu untuk nurmala. Andai bapak tau bahwa Hasan disana lagi berjuang menyelesaikan studi sarjananya, karena ia selalu ingat kata ibu bahwa tak memperbolehkan anaknya berhubungan dengan anak bukan kuliahan. Pasti bapak juga pernah merasakan seperti itu. Ku harap bapak mengerti.” Jawabnya.
“Iya bapak mengerti, bapak akan coba membujuk ibumu. Bapak juga tak tega melihat anak bapak nangis terus”. Bujuk bapaknya sambil menenangkan nurmala.

Malam hari bapaknya melihat pintu kamar nurmala membuka, ia menghampiri dan melihat nurmala tidur terlelap. Bapaknya melihat buku diary yang terbuka ia pun membacan tulisan tersebut...

Aku ingin seperti mata air,
mengalir untuk menjumpai mata air yang lain untuk bersatu,
Maka jangan paksakan aku menyatu dengan minyak,
karena walau bagaimanapun aku tak bisa menyatu,
bahkan tersenyum. . .
Mengertilah kemurnian mata air untuk siapa.
Jangan paksakan...

Membaca tulisan tersebut hati bapaknya langsung terhenyap, dan semakin tau ketulusan hati anaknya untuk Hasan. Bapaknya pun mebawa buku tersebut untuk dilihatkan pada ibunya.

“ Lihat bu, tulisan ini cari tau maknanya. Ini tulisan nurmala” suruh bapaknya.
“Nurmala, aja lebay pak....” acuh ibunya.
“Ibu, ku harap ibu mengerti. Sekarang bukan jaman siti nurbaya. Biarlah nurmala bahagia dengan pilihan hatinya. Jangan diskriminasi dengan anak bu, ibu juga dulu nikah dengan bapak juga bapak statusnya bukan anak orang kaya. Bapak seperti sekarang karena jerih payah bapak sendiri” jawab bapak sambil menyadarkan ibu.
“Tapi ibu sudah berjanji pada rendi pak, jangan buat malu keluarga kita” ujar ibu.

. . . . . .
Beberapa bulan berlalu, hasan pun berhasil menyelesaiaka studinya. Ia juga merupakan lulusan terbaik dan kini ia dijadikan sebagai asisten dosen. Ia pun pulang ke kampung untuk membuktikan pada orang tua nurmala, selama ini hasil jerih payahnya. Membuktikan bahwa anak petani yang ia cemooh bisa menjadi orang sukses.

Hasan datang ke rumah nurmala, ia heran di depan ada mobil. Ia pun bergegas masuk ke rumah nurmala. Betapa ia terkejut bahwa ia datang bertepatan dengan lamaran rendi kepada nurmala. Tapi ia belum telat bahwa nurmala belum menyatakan kesanggupan atas lamaran itu. Dilematis dalam pilihan nurmala, tapi ia memperjuangkan cintanya Hasan. Ia menolak lamaran rendi. Ia meyakinkan ibunya, bahwa hasan selama ini berjuang demi membahagiakan dirinya. Ia pun memberi lembaran kertas seperti apa yang ditulis di buku diarynya.

Aku ingin seperti mata air,
mengalir untuk menjumpai mata air yang lain untuk bersatu,
Maka jangan paksakan aku menyatu dengan minyak,
karena walau bagaimanapun aku tak bisa menyatu,
bahkan tersenyum. . .
Mengertilah kemurnian mata air untuk siapa.
Jangan paksakan...

Ibunya pun melinangkan air matanya, dan menghampiri nurmala untuk memeluk anaknya.
“Ibu udah tau tulisan ini, dari bapakmu. Maafkan ibu, ibu sekarang tak akan memaksamu nikah dengan orang lain. Ibu mengizinkan kamu nikah dengan pilihan kamu. Ibu baru sadar selama ini hasan berjuang demi membahagiakan kamu dan ibu menilai salah tentangnya” Imbuh ibunya sambil tersedu.
“Bener ibu, merestui aku nikah dengan hasan?” tanya nurmala
“He’emmm” jawab ibunya yang masih tersedu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar