Kupanggil
kau matahari, ibu, karena sinarmu selalu menerangi petak jalanku. Saat
muncul akar pada benih dan dahan-dahan kecilku mulai menggapai langit,
ke arahmu sebenarnya aku tumbuh. Cabang-cabangku mungkin merambah ke
mana-mana, tetapi kiblatku tetap pada terang cahayamu.
Itulah sebab redupmu di saat senja,
ibu, membuatku kuyup layu. Senja, yang biasanya demikian indah dengan
semburat srengenge, kini tak ubahnya pintu ke kegelapan kehidupan.
Sesaat aku takut ibu, jerih hati pada kesendirian.
Hendak
kugebah kabut gelisahmu yang pekatnya menyaingi rambut putihmu, ibu.
Hendak kunyanyikan lagu girang pada senja-senja masa datang, ibu. Agar
setiap detik dalam petakan jalan menjadi penuh arti dan setiap memandang
matahari saat senja, ibu selalu tahu aku sayang padamu. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar