“ Ibarat menanam
tanaman yang disirami dan dipupuk setiap
hari, menunggu agar tanaman tersebut berbuah terbaik tapi tak disangka buah
tersebut dipanen orang lain”, itulah apa yang dirasakan Fandi kepada Sarah,
seorang gadis yang dia cintai. Sarah merupakan gadis pertama di kampus yang
Fandi ditaksir, ntah kenapa gadis ini bisa membuat luluh hatinya padahal yang
orang tau ia adalah tipe orang yang susah dalam mencintai. Awalnya ia kagum
terhadap gadis tersebut dengan senyum yang ia punya. Fandi pun memberanikan
diri untuk berkenalan dengan dia, awalnya sih iseng-iseng minta nomor Hpnya dan
lama kealamaan ia pun akrab, hingga rasa kagumnya naik kelas menjadi mencintai.
Suatu ketika ia
mengungkapkan rasanya pada sarah. Sarah merupakan adik kelas kuliahnya. Ketika
ia berhasil mengungkapkan rasa cintanya, sarah hanya bisa ngasih jawaban tunggu
sampai semester berikutnya. Fandi pun jalani dengan ikhlas, karena rasa yang ia
miliki bukan sekedar rasa kagum tapi udah naik pangkat menjadi tulus dan hampir
bergelar mencintai. Detik tak kenal lelah berganti dengan menit, menit pun
selalu bermaraton menjadi jam, dan jam berotasi menjadi hari, dan hari-hari ia
tak kenal lelah untuk memberi perhatian pada sarah. Ia selalu ingin menjadi
yang terbaik untuk sarah dan perjuangannya sangat luar biasa untuk mendapatkan
cintanya sarah. Ia pun tau ia dalam sebuah kompetisi dengan orang-orang yang
naksir pada sarah, Fandi memang pemuda kampung yang mungkin secara finansial ia
kurang tapi ia memiliki komitmen dan ketulusan yang luar biasa yang menjadi
senjatanya. Ia tau sarah ngasih jawaban semester berikutnya, karena ia ingin
tau seberapa tulus cinta Fandi untuk sarah. Dengan perjuangan, komitmen dan
ketulusan yang fandi miliki perlahan sarah pun luluh hatinya, sarah berhasil
keluar dari trauma cinta lalunya dan kini ia juga menaruh rasa pada Fandi.
Mereka pun sama-sama
menaruh rasa, tapi mereka tak pernah tunjukan di kampus. Mereka hanya
bertingkah biasa-biasa aja, dan hanya merekalah yang tau tentang rasanya.
Komitmen Fandi memang kuat, walaupun banyak temen-temennya bilang untuk apa
menunggu orang yang belum pasti. Tapi ia tetap menunggu cinta sarah dan menanti
jawaban di semester berikutnya. Dan kini UAS telah selesai artinya liburan semester
akan tiba dan berganti ke semester berikutnya. Di selah liburan ia pulang
kampung, mengisi hari-hari di tanah kanvas lahirnya. Walaupun ia jauh dari
sarah tapi ia selalu sempetkan untuk berkomunikasi dengannya.
Di kampung ia reunian
dengan temen-temen SMAnya, melepas rindu dan bercerita tentang kisah semasa
putih abu-abunya. Di selah itu datang Lina, yang merupakan adik SMAnya. Ia tau
Lina merupakan adik kelas yang ia anggap seperti adik kandungnya, mereka akrab dan Fandi
dulu selalu membantu Lina ketika dia kesulitan mengerjakan tugas. Tak disangka selama
ini Lina memendam rasa pada Fandi, dan mengungkapkan tentang rasanya. Fandi
menolak cinta Lina, karena ia hanya menganggap Lina hanya seperti adiknya
sendiri. Lina pun bisa memakluminya karena cinta memang tak bisa dipaksakan.
Ini semua Fandi lakukan karena ingin menjaga cintanya pada sarah, ia ingin
membuktikan komitmennya agar selalu ber-sin 90 untuk sarah. Ia ingin mengukir
kanvas kesetiaan bahwa cintanya tak akan takluk oleh jarak. Itulah tentang
komitmennya.
Di sisi lain, sarah
hanya menjalani liburannya di rumah saja dan artinya ia mempunyai banyak waktu
untuk berkumpul pada keluarganya. Diselang waktu sarah menceritakan tentang
sosok Fandi, pemuda yang ia sukai kepada Ibunya. Ia mencerritakan bahwa ia lagi
deket dengan Fandi. Bukan tanggapan baik yang ia terima dari ibunya. Ibunya
justru menyuruh sarah untuk menjauhi pemuda itu, karena ibunya tak mau anaknya
pacaran dengan pemuda kampung yang hanya anak seorang petani. Ya... anak
seorang petani, yang tak selevel dengan keluarganya yang kaya. Dan diem-diem
Ibunya pun sudah menyiapkan calon untuk anaknya tanpa sepengetahuan sarah, dan
menyuruh sarah untuk menikah dengan calon ibunya suatu saat nanti. Hati sarah
pun serasa dilanda gempa tektonik, yang entah berapa skala richer dahsyatnya
dari omongan ibunya. Gak tau apa yang harus lakukan sarah, ia pun sempet
berkonflik dengan ibunya karena ini menyangkut masa depannya. Di sisi lain ia
tau ibunya sangat keras, dan sejak kecil sarah pun hidup dalam tekanan orang
tua yang apa-apa diatur oleh ibunya.
Dilematis kini apa yang
dirasakan sarah, ntah kalimat apa yang harus ia katakan pada Fandi. Kini ia
ibarat lagi mengerjakan soal pilihan ganda antara, “ Memilih Fandi apa Ibunya”. Ia
tak mau mendurhakai ibunya disamping itu Ia juga tak mau PHP.in Fandi. Ia pun
gak berani menceritakan masalah ini kepada fandi. Ia hanya berani curhat pada
temen kuliah fandi, sambil mencari solusi yang tepat untuk memecahkan masalah
ini. Solusi ibarat ngambang yang ia peroleh, hatinya ibarat dijajah terus oleh
tekanan ibunya. Ia tak menyetujui perjodohan dirinya dengan anak temen ibunya,
Ia selalu menyangkal tapi menyangkal hanya ibarat peluruh sangat kecil yang
tak akan mempu meluluhkan kerasnya sifat ibunya. Ia hanya mengubur masalah ini dan
memendamnya tanpa menceritakan ke Fandi.
Sementara liburan telah
selesai artinya kini mahasiswa siap menjalani semester baru, begitu pun apa
yang dirasakan Fandi. Ia pun meninggalkan kampungnya dan siap menjalani hirup
pikuk semester baru. Baru awal masuk kuliah, ia dikejutkan dengan cerita
temennya tentang masalah yang dialami sarah. Hati fandi selalu bertanya kenapa
sarah gak jujur padanya dan lebih jujur pada orang lain. Ia pun tanyakan
masalah ini pada sarah, sarah awalnya mengelak tapi akhirnya pun takluk dan kapok
terhadap elakannya, ia pun jujur menceritakan masalah tentang perjodohan
dengan anak temen ibunya kepada fandi. Ntah apa yang dirasakan fandi pada saat itu, jika Sarah serasa
dilanda gempa tektonik mendengar cerita perjodohannya dari ibunya, fandi lebih
dahsyat lagi serasa dilanda tsunami sambil diboncengi angin puting beliung.
Sungguh dilematis apa yang harus dilakukan fandi, cinta yang ditanam dengan
komitmen kuat artinya sia-sia saja jika orang lain yang memanennya.
Esok harinya HP fandi
berdering dengan nada SMS, “ Ini nomor fandi? Ini mama sarah. Tante pingin
nanya sama fandi. Fandi bener ya lagi
deket sama sarah? Tante mau bicara tentang sarah yang belum boleh pacaran.
Sarah belum tante bolehkan pacaran untuk saat ini karena sarah masih fokus
kuliah dan sudah punya calon untuk ke depannya. Sarah memang tidak atau belum
mau membicarakan masalah calon, karena masih berhubungan dengan fandi ya? Tapi tante
minta tolong sama fandi supaya jauhin dan nasihatin sarah. Tante minta ini ke
fandi, karena sarah keras gak bisa dikasih tau. Untuk bertemen silahkan tante
gak melarang. Tante tau fandi anak baik, bukan anak yang macem-macem. Terima kasih
ya fandi, tante minta maaf sebelumnya. Thanks”.... Dengan setengah merem ia
membuka SMS itu dan tiba-tiba matanya menjadi melek membaca SMS itu yang
panjangnya hampir satu makalah. Ia cerna SMS itu, walaupun dicerna dengan apa
saja SMS itu tetap aja intinya untuk melarang deket sama sarah. Badannya pun
jadi lemes membacanya, apalagi temen sekosnya tambah lemes mendengar curhatan
fandi. Memang sungguh dilematis apa yang harus dilakukan fandi, tak mungkin ia
memaksa cintanya yang tak diboncengi dengan restu orang tua. Restu orang tua
adalah gedung tertinggi yang tak akan mampu ia lewati. Disamping itu sarah hanya
pesimis dan pasrah, tak ada niat untuk mempertahankan cinta fandi, karena sekali
lagi hatinya dijajah oleh orang tua dan tak akan merdeka tanpa restunya.
Jawaban semester
berikutnya udah ia terima, jawaban yang bukan ia harapkan untuk bertepuk tangan
tapi bertepuk sebelah tangan. Fandi pun tak bisa berbuat apa, biarlah cinta ini
lapuk oleh waktu.
Beberapa hari kemudian,
episode pun terganti seakan memang bener-bener sinetron rumitnya cinta ini. Ia
iseng membuka profil twitternya sarah, dan tak disangka dibionya bertuliskan nama
lelaki sambil ditandai tanda love. Dan anehnya nama cowok tersebut bukan nama
cowok apa yang disiapkan ibunya untuk calonnya ke depan tapi malah nama cowok
lain. Ia pun SMS sarah, sarah bilang twitternya dibajak orang tapi sarah tak
mengelak kalau lagi deket dengan cowok tersebut. Ini namanya ANEH ntah BIN
apa...
Fandi merasa rela jika
dia pacaran sama orang yang dicalonkan oleh ibunya, tapi ini beda. Fandi
pun merasa serasa dibohongi. Beberapa kali sarah telepon fandi mau menjelasin masalah ini tapi tak diangkat
olehnya karena ini fandi lakukan agar emosinya tak meluap. Fandi hanya bilang kalau
mau jelasin, ketemu langsung saja. Mereka pun ketemuan, sarah pun menjelaskan
bahwa ia deket sama cowok lain karena tak bisa move on dari fandi dan ia
mencari pelampiasan untuk melupakan fandi. Fandi pun menanyakan kenapa jika
hanya untuk mencari pelampiasan, kenapa gak jalani aja dengan fandi sambil
meyakinkan orang tuanya. Sarah tetap saja gak mau menjalani cinta dengan fandi,
ia bilang tidak mau menyakiti fandi dengan pengharapan lagi karena fandi tak ada
tempat dalam restu orang tuanya, yang lebih mengutamakan finansial sementara
Fandi adalah pemuda kampung yang hanya anak seorang petani. Sarah menjelaskan
tak mau menyakiti fandi walau sebenarnya ia mencintainya, ia pun membohongi
hatinya sendiri untuk cowok lain yang udah lama mendekati sarah. Tapi ia
lakukan sebagai bentuk protes pada ibunya agar tak selalu ditekan dan ia deket
dengan cowok lain yang memang secara finansial memenuhi kriteria ibunya. Walau suatu
saat ibunya menolak cowok tersebut, toh cowok tersebut secara finansial
memenuhi apa yang harapkan ibunya dan sarah memang sengaja tak menjalani dengan
pemuda yang dicalonkan oleh ibunya, ia lebih memilih mencari cowok lain yang
sesuai dengan kriteria ibunya untuk menyadarkan ibunya bahwa tak selamanya anak
hidup dalam tekanan orang tua. Tapi entahlah suatu saat ibunya menyadari atau
gak.........
Beberapa kali fandi
meyakinkan sarah, tapi sarah masih bersih kokoh tak mau menerima fandi. Karena
ia tak mau menjanjikan dengan harapan dan tak mau menyakitinya dengan
pengharapan yang ia tak tau kapan terwujudnya serta tak mau menjalani tanpa
restu orang tua. Fandi pun menerima dengan lapang dada, ia pun tak berhak
memaksakan cinta. Ia inget bener kata mbaknya, “ Wanita yang patut kamu
perjuangkan adalah dia yang tau akan kurangmu tapi masih ingin bersamamu”.
Fandi pun sadar memang
ia harus meninggalkan sarah, karena tak ada lagi kesamaan komitmen dan tak mampu
melewati gedung tertinggi apa yang namanya restu orang tua. Fandi hanya ingin
sarah bahagia di suatu saat nanti walau bahagianya bukan karena dirinya. Tapi
ia ridho....
Ia pun memberikan selembar kertas tentang puisi terakhir untuknya.
KETIKA AKU HARUS PERGI
hingga aku bisa merasakan betapa indahnya cinta
betapa berarti sebuah kesetiaan
betapa sempurna hati ketika bersamanya
Tapi semua pudar...
Kebahagiaan bagaikan api
Canda tawa bagai sekam
Semua kandas ketika cinta tak direstui....
Aku tak tau harus berbuat apa ?
aku tak tau harus bagaimana ?
dan aku tak tau harus memilih jalan yg mana??
Biarlah engkau bahagia dengan restunya
dan bila suatu saat nanti engkau membuka mata
mungkin aku tak lagi di sampingmu
Ketika aku harus pergi
Cinta...
Biarkan hatimu tetap bersatu dihatiku
meski ku tau mungkin raga kita
Tak akan pernah menyatu....
SEMOGA ENGKAU BAHAGIA...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar