Kamis, 13 Februari 2014

FANDI dan SARAH “ Babak Kedua Siti Nurbaya”



“ Ibarat menanam tanaman  yang disirami dan dipupuk setiap hari, menunggu agar tanaman tersebut berbuah terbaik tapi tak disangka buah tersebut dipanen orang lain”, itulah apa yang dirasakan Fandi kepada Sarah, seorang gadis yang dia cintai. Sarah merupakan gadis pertama di kampus yang Fandi ditaksir, ntah kenapa gadis ini bisa membuat luluh hatinya padahal yang orang tau ia adalah tipe orang yang susah dalam mencintai. Awalnya ia kagum terhadap gadis tersebut dengan senyum yang ia punya. Fandi pun memberanikan diri untuk berkenalan dengan dia, awalnya sih iseng-iseng minta nomor Hpnya dan lama kealamaan ia pun akrab, hingga rasa kagumnya naik kelas menjadi mencintai.

Suatu ketika ia mengungkapkan rasanya pada sarah. Sarah merupakan adik kelas kuliahnya. Ketika ia berhasil mengungkapkan rasa cintanya, sarah hanya bisa ngasih jawaban tunggu sampai semester berikutnya. Fandi pun jalani dengan ikhlas, karena rasa yang ia miliki bukan sekedar rasa kagum tapi udah naik pangkat menjadi tulus dan hampir bergelar mencintai. Detik tak kenal lelah berganti dengan menit, menit pun selalu bermaraton menjadi jam, dan jam berotasi menjadi hari, dan hari-hari ia tak kenal lelah untuk memberi perhatian pada sarah. Ia selalu ingin menjadi yang terbaik untuk sarah dan perjuangannya sangat luar biasa untuk mendapatkan cintanya sarah. Ia pun tau ia dalam sebuah kompetisi dengan orang-orang yang naksir pada sarah, Fandi memang pemuda kampung yang mungkin secara finansial ia kurang tapi ia memiliki komitmen dan ketulusan yang luar biasa yang menjadi senjatanya. Ia tau sarah ngasih jawaban semester berikutnya, karena ia ingin tau seberapa tulus cinta Fandi untuk sarah. Dengan perjuangan, komitmen dan ketulusan yang fandi miliki perlahan sarah pun luluh hatinya, sarah berhasil keluar dari trauma cinta lalunya dan kini ia juga menaruh rasa pada Fandi.

Mereka pun sama-sama menaruh rasa, tapi mereka tak pernah tunjukan di kampus. Mereka hanya bertingkah biasa-biasa aja, dan hanya merekalah yang tau tentang rasanya. Komitmen Fandi memang kuat, walaupun banyak temen-temennya bilang untuk apa menunggu orang yang belum pasti. Tapi ia tetap menunggu cinta sarah dan menanti jawaban di semester berikutnya. Dan kini UAS telah selesai artinya liburan semester akan tiba dan berganti ke semester berikutnya. Di selah liburan ia pulang kampung, mengisi hari-hari di tanah kanvas lahirnya. Walaupun ia jauh dari sarah tapi ia selalu sempetkan untuk berkomunikasi dengannya. 

Di kampung ia reunian dengan temen-temen SMAnya, melepas rindu dan bercerita tentang kisah semasa putih abu-abunya. Di selah itu datang Lina, yang merupakan adik SMAnya. Ia tau Lina merupakan adik kelas yang ia anggap seperti adik kandungnya, mereka akrab dan Fandi dulu selalu membantu Lina ketika dia kesulitan mengerjakan tugas. Tak disangka selama ini Lina memendam rasa pada Fandi, dan mengungkapkan tentang rasanya. Fandi menolak cinta Lina, karena ia hanya menganggap Lina hanya seperti adiknya sendiri. Lina pun bisa memakluminya karena cinta memang tak bisa dipaksakan. Ini semua Fandi lakukan karena ingin menjaga cintanya pada sarah, ia ingin membuktikan komitmennya agar selalu ber-sin 90 untuk sarah. Ia ingin mengukir kanvas kesetiaan bahwa cintanya tak akan takluk oleh jarak. Itulah tentang komitmennya.

Di sisi lain, sarah hanya menjalani liburannya di rumah saja dan artinya ia mempunyai banyak waktu untuk berkumpul pada keluarganya. Diselang waktu sarah menceritakan tentang sosok Fandi, pemuda yang ia sukai kepada Ibunya. Ia mencerritakan bahwa ia lagi deket dengan Fandi. Bukan tanggapan baik yang ia terima dari ibunya. Ibunya justru menyuruh sarah untuk menjauhi pemuda itu, karena ibunya tak mau anaknya pacaran dengan pemuda kampung yang hanya anak seorang petani. Ya... anak seorang petani, yang tak selevel dengan keluarganya yang kaya. Dan diem-diem Ibunya pun sudah menyiapkan calon untuk anaknya tanpa sepengetahuan sarah, dan menyuruh sarah untuk menikah dengan calon ibunya suatu saat nanti. Hati sarah pun serasa dilanda gempa tektonik, yang entah berapa skala richer dahsyatnya dari omongan ibunya. Gak tau apa yang harus lakukan sarah, ia pun sempet berkonflik dengan ibunya karena ini menyangkut masa depannya. Di sisi lain ia tau ibunya sangat keras, dan sejak kecil sarah pun hidup dalam tekanan orang tua yang apa-apa diatur oleh ibunya.

Dilematis kini apa yang dirasakan sarah, ntah kalimat apa yang harus ia katakan pada Fandi. Kini ia ibarat lagi mengerjakan soal pilihan ganda antara, “ Memilih Fandi apa Ibunya”. Ia tak mau mendurhakai ibunya disamping itu Ia juga tak mau PHP.in Fandi. Ia pun gak berani menceritakan masalah ini kepada fandi. Ia hanya berani curhat pada temen kuliah fandi, sambil mencari solusi yang tepat untuk memecahkan masalah ini. Solusi ibarat ngambang yang ia peroleh, hatinya ibarat dijajah terus oleh tekanan ibunya. Ia tak menyetujui perjodohan dirinya dengan anak temen ibunya, Ia selalu menyangkal tapi menyangkal hanya ibarat peluruh sangat kecil yang tak akan mempu meluluhkan kerasnya sifat ibunya. Ia hanya mengubur masalah ini dan memendamnya tanpa menceritakan ke Fandi.

Sementara liburan telah selesai artinya kini mahasiswa siap menjalani semester baru, begitu pun apa yang dirasakan Fandi. Ia pun meninggalkan kampungnya dan siap menjalani hirup pikuk semester baru. Baru awal masuk kuliah, ia dikejutkan dengan cerita temennya tentang masalah yang dialami sarah. Hati fandi selalu bertanya kenapa sarah gak jujur padanya dan lebih jujur pada orang lain. Ia pun tanyakan masalah ini pada sarah, sarah awalnya mengelak tapi akhirnya pun takluk dan kapok terhadap elakannya, ia pun jujur menceritakan masalah tentang perjodohan dengan anak temen ibunya kepada fandi. Ntah apa yang dirasakan fandi pada saat itu, jika Sarah serasa dilanda gempa tektonik mendengar cerita perjodohannya dari ibunya, fandi lebih dahsyat lagi serasa dilanda tsunami sambil diboncengi angin puting beliung. Sungguh dilematis apa yang harus dilakukan fandi, cinta yang ditanam dengan komitmen kuat artinya sia-sia saja jika orang lain yang memanennya.

Esok harinya HP fandi berdering dengan nada SMS, “ Ini nomor fandi? Ini mama sarah. Tante pingin nanya sama fandi.  Fandi bener ya lagi deket sama sarah? Tante mau bicara tentang sarah yang belum boleh pacaran. Sarah belum tante bolehkan pacaran untuk saat ini karena sarah masih fokus kuliah dan sudah punya calon untuk ke depannya. Sarah memang tidak atau belum mau membicarakan masalah calon, karena masih berhubungan dengan fandi ya? Tapi tante minta tolong sama fandi supaya jauhin dan nasihatin sarah. Tante minta ini ke fandi, karena sarah keras gak bisa dikasih tau. Untuk bertemen silahkan tante gak melarang. Tante tau fandi anak baik, bukan anak yang macem-macem. Terima kasih ya fandi, tante minta maaf sebelumnya. Thanks”.... Dengan setengah merem ia membuka SMS itu dan tiba-tiba matanya menjadi melek membaca SMS itu yang panjangnya hampir satu makalah. Ia cerna SMS itu, walaupun dicerna dengan apa saja SMS itu tetap aja intinya untuk melarang deket sama sarah. Badannya pun jadi lemes membacanya, apalagi temen sekosnya tambah lemes mendengar curhatan fandi. Memang sungguh dilematis apa yang harus dilakukan fandi, tak mungkin ia memaksa cintanya yang tak diboncengi dengan restu orang tua. Restu orang tua adalah gedung tertinggi yang tak akan mampu ia lewati. Disamping itu sarah hanya pesimis dan pasrah, tak ada niat untuk mempertahankan cinta fandi, karena sekali lagi hatinya dijajah oleh orang tua dan tak akan merdeka tanpa restunya.

Jawaban semester berikutnya udah ia terima, jawaban yang bukan ia harapkan untuk bertepuk tangan tapi bertepuk sebelah tangan. Fandi pun tak bisa berbuat apa, biarlah cinta ini lapuk oleh waktu. 

Beberapa hari kemudian, episode pun terganti seakan memang bener-bener sinetron rumitnya cinta ini. Ia iseng membuka profil twitternya sarah, dan tak disangka dibionya bertuliskan nama lelaki sambil ditandai tanda love. Dan anehnya nama cowok tersebut bukan nama cowok apa yang disiapkan ibunya untuk calonnya ke depan tapi malah nama cowok lain. Ia pun SMS sarah, sarah bilang twitternya dibajak orang tapi sarah tak mengelak kalau lagi deket dengan cowok tersebut. Ini namanya ANEH ntah BIN apa...

Fandi merasa rela jika dia pacaran sama orang yang dicalonkan oleh ibunya, tapi ini beda. Fandi pun merasa serasa dibohongi. Beberapa kali sarah telepon fandi mau menjelasin masalah ini tapi tak diangkat olehnya karena ini fandi lakukan agar emosinya tak meluap. Fandi hanya bilang kalau mau jelasin, ketemu langsung saja. Mereka pun ketemuan, sarah pun menjelaskan bahwa ia deket sama cowok lain karena tak bisa move on dari fandi dan ia mencari pelampiasan untuk melupakan fandi. Fandi pun menanyakan kenapa jika hanya untuk mencari pelampiasan, kenapa gak jalani aja dengan fandi sambil meyakinkan orang tuanya. Sarah tetap saja gak mau menjalani cinta dengan fandi, ia bilang tidak mau menyakiti fandi dengan pengharapan lagi karena fandi tak ada tempat dalam restu orang tuanya, yang lebih mengutamakan finansial sementara Fandi adalah pemuda kampung yang hanya anak seorang petani. Sarah menjelaskan tak mau menyakiti fandi walau sebenarnya ia mencintainya, ia pun membohongi hatinya sendiri untuk cowok lain yang udah lama mendekati sarah. Tapi ia lakukan sebagai bentuk protes pada ibunya agar tak selalu ditekan dan ia deket dengan cowok lain yang memang secara finansial memenuhi kriteria ibunya. Walau suatu saat ibunya menolak cowok tersebut, toh cowok tersebut secara finansial memenuhi apa yang harapkan ibunya dan sarah memang sengaja tak menjalani dengan pemuda yang dicalonkan oleh ibunya, ia lebih memilih mencari cowok lain yang sesuai dengan kriteria ibunya untuk menyadarkan ibunya bahwa tak selamanya anak hidup dalam tekanan orang tua. Tapi entahlah suatu saat ibunya menyadari atau gak.........

Beberapa kali fandi meyakinkan sarah, tapi sarah masih bersih kokoh tak mau menerima fandi. Karena ia tak mau menjanjikan dengan harapan dan tak mau menyakitinya dengan pengharapan yang ia tak tau kapan terwujudnya serta tak mau menjalani tanpa restu orang tua. Fandi pun menerima dengan lapang dada, ia pun tak berhak memaksakan cinta. Ia inget bener kata mbaknya, “ Wanita yang patut kamu perjuangkan adalah dia yang tau akan kurangmu tapi masih ingin bersamamu”.

Fandi pun sadar memang ia harus meninggalkan sarah, karena tak ada lagi kesamaan komitmen dan tak mampu melewati gedung tertinggi apa yang namanya restu orang tua. Fandi hanya ingin sarah bahagia di suatu saat nanti walau bahagianya bukan karena dirinya. Tapi ia ridho....

Ia pun memberikan selembar kertas tentang puisi terakhir untuknya.                                                           

KETIKA AKU HARUS PERGI

Begitu elok keagungan tuhan
hingga aku bisa merasakan betapa indahnya cinta
betapa berarti sebuah kesetiaan
betapa sempurna hati ketika bersamanya

Tapi semua pudar...
Kebahagiaan bagaikan api
Canda tawa bagai sekam
Semua kandas ketika cinta tak direstui....

Aku tak tau harus berbuat apa ?
aku tak tau harus bagaimana ?
dan aku tak tau harus memilih jalan yg mana??

Biarlah engkau bahagia dengan restunya
dan bila suatu saat nanti engkau membuka mata
mungkin aku tak lagi di sampingmu
Ketika aku harus pergi

Cinta...
Biarkan hatimu tetap bersatu dihatiku
meski ku tau mungkin raga kita
Tak akan pernah menyatu....

SEMOGA ENGKAU BAHAGIA...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar