Sabtu, 22 Maret 2014

AKHIRNYA JUARA



Sepeda jepang kini praktis menjadi sisa peninggalan warisan, ia kayuh tak mempedulikan zaman yang semakin digrogoti globalisasi. Gerombolan temen-temen bersepeda motor mengklason seakan mencemooh, tapi ia bermental baja berani mengacuhkan itu. Empat kilo meter ia tempuh, dari sejak mentari bangun dari tidurnya sampai tujuan bel sekolah mengalarm pertanda masuk. Dia adalah Benny, seorang penggembala kambing yang kata temen-temen seprofesinya memiliki cita-cita yang tinggi yaitu LULUS SMA. Bagi kalangan temen-temennya lulus SMA adalah prestasi yang langka, karena spesies prestasi ini tak dijumpai di temen seprofesinya.

Dia dibesarkan seorang ibu penjual gethuk singkong, yang menjajakan barang dagangannya keliling kampung dengan kendaraan gratis yang namanya alas kaki. Dan bapaknya meninggal dua tahun yang lalu akibat penyakit paru-paru, ia hanya meninggalkan warisan berupa sepeda jepang dan kambing. Kata ibunya sepeda jepang ini meninggalkan sejarah yang panjang, karena selalu dipakai bapaknya untuk memboncengi ibunya sehabis malam mingguan. Sampai menjadi sejarahnya, di sepeda tersebut ditulis tanggal jadian mereka. Sementara ia mempunyai dua adik yang satu duduk di bangku SMP dan yang satu masih SD.

Walau mereka hidup dalam naungan ekonomi yang pas-pasan, tapi ibunya selalu menomorsatukan pendidikan anak-anaknya, bahkan ibunya tak pernah mempedulikan apa yang namanya beli baju lebaran. Itu semua beliau lakukan karena tak ingin menyelingkuhkan hak pendidikan anak-anaknya.

Sebelum meninggal, cita-cita bapaknya adalah melihat Benny juara satu. Memang Benny anak yang pandai tapi ia hanya selalu menjadi runner up dikelasnya, hanya kalah dengan Tuti yang katanya kalau belajar dari adzan magrib sampai komat adzan subuh. Cita-cita itu belum bisa Benny rengkuh semasa bapaknya hidup. Ia selalu teringat harapan beliau itu, setiap kenaikkan kelas ia selalu meningkatkan belajarnya, bahkan sampai kadang ia lupa kalau belajar sambil menggembala tau-tau kambingnya PDKT dan pergi dengan kambing temenya tanpa sepengetahuannya.

Dikalangan pergaulannya, dia adalah satu-satunya pemuda yang selalu puasa dari apa yang namanya merokok. Ia tak pernah peduli ketika temen-temennya mengiming-imingi rokok, walau temennya mengatakan rasanya lebih enak dari strowberry. Ia hanya mengacuhkan itu, ia belajar dari pengalaman bapaknya yang merupakan perokok aktif hingga terjangkit pada penyakit paru-paru. Ketraumaan itulah yang membuat benny enggan untuk merokok.

Kini semester berganti semester, ia masih mencari gimana caranya memperoleh resep untuk mengalahkan Tuti. Dan ia menyadari ini adalah semester terakhir, artinya ini adalah kesempatan terakhir untuk mempersinggahkan cita-cita bapaknya. Ia pun meningkatkan belajarnya, sampai disetiap dinding ruangan ia tempeli tulisan “ JANGAN LUPA BELAJAR, SI TUTI DISANA LAGI BELAJAR, AYO KEJAR SAINGANMU”. Strategi itulah yang ia lakukan untuk selalu mengingatkan belajar dan memotivasinya untuk bisa menjadi nomor satu di kelasnya. Dan ketika mau ujian nasional ia lebih tingkatkan belajar, ia ikuti gaya belajar Tuti belajar bahkan ia tambah lebih ekstrim yaitu bejalar dari ayam ngorok sampai ayam berkokok. Ia tau karena ini adalah pembuktian terakhir benny untuk bapaknya. Ia tak lupa mengeposkan doa disetiap mau belajar. 

Dan akhirnya ujian nasional tiba, dia tak pernah panik dalam mengerjakan soal-soalnya. Ia kerjakan dengan teliti. Sampai pada akhirnya 4 hari masa ujian nasional dapat terlewati. Ia pun tak lupa mengeposkan doa agar diberi yang terbaik atas hasil kerja kerasnya. Dan pengumuman kelulusan pun tiba, tak disangka dalam pengumuman yang dikumandangkan kepala sekolah ia menjadi lulusan terbaik, artinya ia bukan hanya juara di kelasnya tapi juga di sekolahnya. Betapa gembiranya menghinggapi hati benny, akhirnya ia bisa mewujudkan cita-cita bapaknya. Tapi sayang ketika ia bisa mewujudkan harapan itu, bapaknya gak melihatnya. Setidaknya ia bisa mempersinggahkan cita-cita bapaknya, dan itulah impiannya. Memang kesungguhan akan berbuat adil pada usaha kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar