Sepeda jepang kini
praktis menjadi sisa peninggalan warisan, ia kayuh tak mempedulikan zaman yang
semakin digrogoti globalisasi. Gerombolan temen-temen bersepeda motor
mengklason seakan mencemooh, tapi ia bermental baja berani mengacuhkan itu.
Empat kilo meter ia tempuh, dari sejak mentari bangun dari tidurnya sampai
tujuan bel sekolah mengalarm pertanda masuk. Dia adalah Benny, seorang
penggembala kambing yang kata temen-temen seprofesinya memiliki cita-cita yang
tinggi yaitu LULUS SMA. Bagi kalangan temen-temennya lulus SMA adalah prestasi
yang langka, karena spesies prestasi ini tak dijumpai di temen seprofesinya.
Dia dibesarkan seorang
ibu penjual gethuk singkong, yang menjajakan barang dagangannya keliling
kampung dengan kendaraan gratis yang namanya alas kaki. Dan bapaknya meninggal
dua tahun yang lalu akibat penyakit paru-paru, ia hanya meninggalkan warisan
berupa sepeda jepang dan kambing. Kata ibunya sepeda jepang ini meninggalkan
sejarah yang panjang, karena selalu dipakai bapaknya untuk memboncengi ibunya
sehabis malam mingguan. Sampai menjadi sejarahnya, di sepeda tersebut ditulis
tanggal jadian mereka. Sementara ia mempunyai dua adik yang satu duduk di
bangku SMP dan yang satu masih SD.
Walau mereka hidup
dalam naungan ekonomi yang pas-pasan, tapi ibunya selalu menomorsatukan
pendidikan anak-anaknya, bahkan ibunya tak pernah mempedulikan apa yang namanya
beli baju lebaran. Itu semua beliau lakukan karena tak ingin menyelingkuhkan
hak pendidikan anak-anaknya.
Sebelum meninggal,
cita-cita bapaknya adalah melihat Benny juara satu. Memang Benny anak yang
pandai tapi ia hanya selalu menjadi runner up dikelasnya, hanya kalah dengan
Tuti yang katanya kalau belajar dari adzan magrib sampai komat adzan subuh. Cita-cita
itu belum bisa Benny rengkuh semasa bapaknya hidup. Ia selalu teringat harapan
beliau itu, setiap kenaikkan kelas ia selalu meningkatkan belajarnya, bahkan
sampai kadang ia lupa kalau belajar sambil menggembala tau-tau kambingnya PDKT dan
pergi dengan kambing temenya tanpa sepengetahuannya.
Dikalangan
pergaulannya, dia adalah satu-satunya pemuda yang selalu puasa dari apa yang
namanya merokok. Ia tak pernah peduli ketika temen-temennya mengiming-imingi
rokok, walau temennya mengatakan rasanya lebih enak dari strowberry. Ia hanya
mengacuhkan itu, ia belajar dari pengalaman bapaknya yang merupakan perokok
aktif hingga terjangkit pada penyakit paru-paru. Ketraumaan itulah yang membuat
benny enggan untuk merokok.
Kini semester berganti
semester, ia masih mencari gimana caranya memperoleh resep untuk mengalahkan
Tuti. Dan ia menyadari ini adalah semester terakhir, artinya ini adalah
kesempatan terakhir untuk mempersinggahkan cita-cita bapaknya. Ia pun
meningkatkan belajarnya, sampai disetiap dinding ruangan ia tempeli tulisan “
JANGAN LUPA BELAJAR, SI TUTI DISANA LAGI BELAJAR, AYO KEJAR SAINGANMU”. Strategi
itulah yang ia lakukan untuk selalu mengingatkan belajar dan memotivasinya
untuk bisa menjadi nomor satu di kelasnya. Dan ketika mau ujian nasional ia
lebih tingkatkan belajar, ia ikuti gaya belajar Tuti belajar bahkan ia tambah
lebih ekstrim yaitu bejalar dari ayam ngorok sampai ayam berkokok. Ia tau
karena ini adalah pembuktian terakhir benny untuk bapaknya. Ia tak lupa
mengeposkan doa disetiap mau belajar.
Dan akhirnya ujian
nasional tiba, dia tak pernah panik dalam mengerjakan soal-soalnya. Ia kerjakan
dengan teliti. Sampai pada akhirnya 4 hari masa ujian nasional dapat terlewati.
Ia pun tak lupa mengeposkan doa agar diberi yang terbaik atas hasil kerja
kerasnya. Dan pengumuman kelulusan pun tiba, tak disangka dalam pengumuman yang
dikumandangkan kepala sekolah ia menjadi lulusan terbaik, artinya ia bukan
hanya juara di kelasnya tapi juga di sekolahnya. Betapa gembiranya menghinggapi
hati benny, akhirnya ia bisa mewujudkan cita-cita bapaknya. Tapi sayang ketika
ia bisa mewujudkan harapan itu, bapaknya gak melihatnya. Setidaknya ia bisa
mempersinggahkan cita-cita bapaknya, dan itulah impiannya. Memang kesungguhan
akan berbuat adil pada usaha kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar