Rabu, 30 April 2014

KEBANGKITAN SIMON SANTOSO

Belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan. Ilmu yang tak dikuasai akan menjelma kedalam diri manusia menjadi sebuah kekuatan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seorang yg bukan penakut.

Dan itulah yg telah dilakukan oleh seorang Simon Santoso. Dia berani belajar dari keterpurukan, menantang segala ketidakmungkinan, mematahkan segala pandangan bahwa dia telah habis. Dua bulan Simon belajar dengan keras untuk membenahi segala kekurangannya setelah memutuskan keluar dari pelatnas. Pelatnas bukanlah satu-satunya tempat Simon untuk belajar dan mengantungkan mimpinya. Dua bulan lamanya Simon belajar hingga dia benar-benar siap untuk bertempur kembali.

Malaysia Open GPG 2014 menjadi pembuktian pertama bahwa Simon belum habis. Menjadi unggulan ke15 dan tidak perlu merangkak dari kualifikasi tidak membuat Simon terlena. Pertandingan demi pertandingan Simon lalui hingga akhirnya dia mampu mengukuhkan diri menjadi yg terbaik dan mematahkan segala kicauan negative tetang dirinya. Namun gelar sekelas GPG belum mampu meyakinkan pencinta bulutangkis bahwa Simon belum habis.

Singapore Open Super Series adalah ajang pembuktian berikutnya. Dalam Singapore Open Super Series ini Simon harus merangkak dari kualifikasi sebelum akhirnya mampu menembus babak utama, Simon tampil begitu meyakinkan pada Singapore Open Super Series, ini karna mampu menundukkan Du pengyu pemain unggulan ke5 asal china.

Di final Simon ditantang Lee Chong Wei pemain terbaik dunia asal Malaysia. Berbagai pandangan bermunculan tentang laga ini, Berpandangan bahwa Simon membutuhkan keajaiban untuk bisa menghempaskan Lee Chong Wei. Namun siapa sangka bahwa ternyata Simon telah belajar dan apa yang dia pelajari telah menjelma menjadi sebuah kekuatan yang mampu mematahkan segala ketidakmungkinan dan kemustahilan. Teramat sangat mengejutkan ternyata Simon mampu menghentikan Lee Chong Wei  untuk berdiri tegak dipuncak podium juara dua set langsung 21-15 21-10. Simon mampu menghadirkan mimpi buruk untuk sang pemain terbaik dunia.

Simon Santoso telah belajar dengan baik sehingga mampu membuktikan diri bahwa ia belum habis.
Mengirim kekalahan terburuk untuk Lee Chong Wei adalah salah satu hasil dari belajarnya Simon dengan keras selama dua bulan. Sekaligus sebuah peringatan untuk para pemain TOP dunia lainnya bahwa Simon telah TERLAHIR KEMBALI.

Namun ini barulah awal dari kelahiran kembali Simon Santoso. Simon Santoso harus berani untuk belajar dengan keras lagi untuk membuktikan bahwa dia masih mampu bersaing dengan pemain TOP dunia lainnya. Simon bukanlah seorang penakut yg tak berani melangkah meski telah keluar dari pelatnas. Simon berani melangkah dengan pasti untuk menjadi yg terbaik dengan jalannya sendiri.

Rabu, 23 April 2014

KARYA SURGA PADA SEORANG HAWA

Aku sangat sadar, sangat-sangat sadar. Aku juga melek akan diriku ini. Aku memang tak sekuat Umar bin Khattab, aku juga tak setampan Nabi Yusuf, Aku juga tak sekaya Nabi Sulaiman, juga tak seterpuji Nabi Muhammad. Aku hanya pribadi tak sempurna untuk dicintai, pribadi yang penuh dengan kekurangan hingga ku membutuhkan seseorang untuk memperbaiki kekuranganku.

Dengan segala kekurangan yang aku punya, pantaskah aku mendapatkan sosok sepertimu? sosok yang mau bertahan dengan kekuranganku, bahkan mendemo kekuranganku dan mengarahkan ke arah yang lebih baik. Sosok yang tak pernah memandang latar belakangku, bahkan bertanya apa pekerjaan Bapakmu. Sosok yang menerima apa adanya, bukan ada apanya. Itulah sosok yang berhijab akan hatimu.

Kini aku harus melek dan harus ngucek-ucek mata untuk memperbaiki persepsi akan sosok itu. Sosok itu bukan yang mengandalkan daya tarik, untuk membuat orang-orang melirik. Sosok itu bukan sosok yang menshadaqohkan hatinya kemana-mana (Emangnya SCTV, satu untuk semua....hehehe), tapi sosok yang mau menjaga hatinya untuk orang yang berkomitmen padanya. Sosok yang mau menegur kesalahanku hingga mau meninju kesalahanku hingga luluh lantang dan membawanya ke podium kebenaran.

Aku akan berusaha mencari sosok itu, karena serasa omong kosong jika hanya menanti. Menanti ibarat menunggu buah jatuh dari pohonnya, tanpa berusaha memetik buah yang masak itu (Pasti juga nyesel kan, kalau buah yang metik orang lain...hehehe). Tentunya jika aku ingin mendapatkan sosok itu, harus memperbaiki kumuhnya akan sikapku. Sekali lagi, aku harus bertanya  pada diriku apakah aku pantas mendapatkan sosok itu? aku akan berusaha memantaskan diri untuk orang yang pantas, tentunya dengan intropeksi. Bukan dengan jurus pelet, seperti yang sekarang populer yaitu MODUS, jurus kampanye diri untuk mendapatkan seseorang dengan kata-kata bak politisi (Muak kali digombalin mele...hehhee).

Kegagalan kisah lalu, sejatinya Allah menyadarkanku bahwa suatu saat akan memberikan sosok terbaik, yang ikhlas mau memperbaiki kekuranganku bukan mencemooh akan kekuranganku. Dan suatu saat aku mendapatkan buah yang pantas aku petik, dan mengambil hikmah disetiap buah yang dipetik orang. Karena tak selamanya kita harus memiliki, jika buah yang dipetik itu bahagia dengan orang lain. Dan aku yakin, Allah akan menyisakan buah yang pantas ku petik, tentunya pada KARYA SURGA PADA SEORANG HAWA........

Sabtu, 19 April 2014

"BELOK" DEMI PROFESI

Pemerintah kota begitu dipusingkan dengan kehadiran “orang-orang asing” yang datang dari berbagai daerah untuk mengadu nasib hidup di kota. Urbanisasi memang bukanlah termasuk tindakan yang melanggar aturan. Merujuk bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang memang membebaskan persebaran warganya, karena itu adalah hak setiap warga untuk mencari penghidupan yang layak dimanapun tempatnya. Akan tetapi yang jadi masalah adalah jika urbanisasi ini dihadapkan pada sebuah realitas, yakni menumpuknya konsentrasi migrasi pada beberapa kota tertentu. Akibatnya nampak terlihat sekarang ini seperti di Jakarta, kondisi kota sudah tidak mampu lagi menampung jumlah penduduknya. Apalagi jika frekuensi urbanisasi kian tahun semakin bertambah. Tengoklah Provinsi DKI Jakarta yang kedatangan pendatang baru rata-rata 200.000-250.00 ribu jiwa pertahunnya, padahal kebutuhan 8,7 juta warganya (13,2 juta versi PBB) belum sepenuhnya bisa dipenuhi Pemprov DKI Jakarta, seperti perumahan, air minum, pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan.
Jakarta sebagai pusat perekonomian Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang tinggal didaerah untuk mencari pekerjaan disana. Walaupun mereka datang tanpa memiliki kemampuan atau keterampilan lebih, serta tidak ada jaminan bahwa mereka akan mendapatkan pekerjaan tetap tidak menyurutkan keinginan mereka untuk datang ke kota. Mungkin hal ini disebabkan karena banyaknya alasan yang mengatakan bahwa penghasilan bekerja didaerah tidak sebesar penghasilan mereka yang bekerja dikota. 
Tapi dalam realitanya urbanisasi justru menjadi biang kerok berbagai permasalahan pelik kota. Kemiskinan, pengangguran, pemukiman kumuh, banyaknya gepeng (gelandangan dan pengemis), tingkat kriminalitas tinggi adalah sebagian contoh akibat langsung maupun tidak langsung dari urbanisasi. Jadi tidaklah janggal jika pemerintah kota menjadi pihak yang paling getol  menghadapi “ancaman urbanisasi”.
Banyaknya pengangguran di ibu kota, itu bukti bahwa sulitnya mencari pekerjaan disana. Keinginan apa yang mereka canangkan untuk mencari pekerjaan yang layak ternyata tak semudah apa yang mereka bayangkan. Jika dihadapkan dengan problematik pengangguran, akan menjadi banyaknya tindakan kriminal yang terjadi. Itu karena tingkat frustasi mereka yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan, sehingga mereka menghalalkan cara apapun untuk bisa bertahan hidup seperti mereka mendadak memperoleh jabatan sebagai tukang copet, perambok, penodong dan sebangainya. Tak hanya itu, kadang mereka juga harus menyalahkan kodrat dan BELOK menjadi banci demi mencari benda ajaib apa yang namanya rupiah untuk menemuhi kebutuhan ekonomi.
Seperti apa yang saya dan teman-teman saya temui, ketika observasi kaum BELOK di daerah Bermis. Fenomena Banci di daerah itu seakan mengganggu lalu lintas. Ketika lampu merah nyala, mereka mengamen dengan dandanan menor tapi berotot, itu karena kodrat asli mereka adalah cowok. Mereka mengetuk-ngetuk mobil untuk memintai uang, kadang kalau ada pengendara tak ngasih uang mereka ngata-ngatain. Tak hanya itu, mereka juga sering melakukan tindak kriminal seperti menodong dan mencopet. 
Kami pun tertarik untuk melakukan pengamatan terhadap fenomena banci ini. Kami melakukan wawancara terhadap tukang koran yang sudah bekerja 25 tahun menjual koran di daerah lampu merah Bermis. Menurut tukang koran tersebut ada dua jenis banci yang sering mengamen disana yaitu banci natural dan banci profesi. Banci natural merupakan banci asli dan sehari-hari juga berpenampilan banci. Spesies banci ini, hanya melakukan pekerjaan sebagai pengamen dan juga sering dibawa oleh pengendara ntah kemana tapi mereka tidak sampai melakukan tindak kriminal. Beda dengan banci profesi, mereka sama-sama melakukan tindakan mengamen dan kadang suka dibawa oleh pengendara tapi mereka juga kalau hasil mengamen pendapatannya kecil suka melakukan tindak kriminal seperti mencopet dan menodong.
Penjual koran ini, juga kenal akrab dengan salah satu banci namanya kalau siang Alex dan kalau malam namanya Jenny. Jenis banci ini merupakan spesies banci profesi. Menurut keterangannya, banci tersebut kalau pagi berprofesi sebagai penjual nasi goreng dan baru ketika sore sampai malam mereka berganti profesi sebagai banci.  Awalnya mereka menjadi banci karena mereka frustasi tak kunjung dapat pekerjaan, kemudian mereka diajak oleh salah satu temennya yang juga seorang banci. Sehingga mereka pun ikut bergabung, dan menjadi banci sebagai profesi. Dari hasil mereka BELOK menjadi Banci, mereka bisa mengantongi 200 ribu dalam sehari. Dengan pendapatan seperti itu, menjadi candu mereka sebagai banci sebagai pekerjaan sampingan.
Padahal dalam kehidupan berkeluarga jenis banci profesi ini nornal dengan suami gentle. Mereka normal mempunyai istri dan anak. Ironisnya, istrinya mengetahui profesi suaminya sebagai banci tapi ia tak melarang suaminya melakukan pekerjaan itu. Mungkin istrinya tau betapa sulitnya mencari pekerjaan dan menghalalkan suaminya melakukan pekerjaan itu demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Istri mau melarang, tapi sadar mau makan apa. Sehingga apa boleh buat, ia dihadapkan pilihan apa yang namanya pasrah. Rata-rata banci profesi ini, yang sudah berkeluarga masih mempunyai anak kecil. Dan mau tidak mau suatu saat mereka akan dihadapkan oleh keadaan dilematis, ketika anaknya mempertanyakan apa pekerjaan ayahnya. Mereka pun pasti akan menutupi pekerjaannya di depan anaknya, agar tak membuat malu anaknya dengan pekerjaan ayahnya.
Kami pun mewawancarai Dinas Sosial, yang berbekerja memantau lalu lintas di sekitar situ. Keadaan Dinas Sosial, membuat jam kerja banci banci semakin sempit. Dulu ketika belum ada Dinas Sosial yang memantau keamanan di sekitar situ, banci-banci tersebut bisa leluasa, bahkan sering melakukan tindakan kriminal. Dinas Sosial bekerja disitu dari jam 14.00-23.00, dari jam penjagaan membuat banci jarang beroperasi disitu tapi selepas jam pemantauan mereka sering muncul bahkan sampai subuh. Kalaupun ada yang sampai ketahuan oleh Dinas Sosial, mereka ditangkap dan dibawa ke markas besar mereka di Cipayung untuk dilakukan karantina pada mereka. Masa karantina mereka biasanya sampai 3 bulan, disitu mereka dijamin makan dan tempat tidur gratis. Bahkan mereka diajarkan keterampilan menjahit dan menyablon agar mereka mempunyai keterampilan selepas dari masa karantina. Tapi kembali lagi, selepas dari karantina Dinas Sosial cuek pada mereka mau berbuat apa, entah mereka mau melanjutkan keterampilannya atau tidak, dinas sosial membiarkannya saja.
Itulah polemik di Jakarta, dampak kaum urban menghadirkan permasalahan baru. Keinginan mencari pekerjaan gampang di ibu kota, ternyata tak segampang seperti apa yang mereka bayangkan kalau tidak diimbangi dengan keterampilan dan kreativitas. Justru akan menimbulkan penyakit sosial baru seperti merambaknya angka pengangguran. Itulah pekerjaan rumah pemerintah ibu kota, bagaimana caranya mencari obat mujarab untuk mengatasi pengangguran.
 
MENCARI PEKERJAAN DI JAKARTA TAK SEGAMPANG OMONGAN ORANG, KALAU TIDAK DIBEKALI DENGAN KETERAMPILAN DAN KREATIVITAS.