Aku sangat sadar,
sangat-sangat sadar. Aku juga melek akan diriku ini. Aku memang tak
sekuat Umar bin Khattab, aku juga tak setampan Nabi Yusuf, Aku juga tak
sekaya Nabi Sulaiman, juga tak seterpuji Nabi Muhammad. Aku hanya
pribadi tak sempurna untuk dicintai, pribadi yang penuh dengan
kekurangan hingga ku membutuhkan seseorang untuk memperbaiki
kekuranganku.
Dengan segala kekurangan yang aku punya, pantaskah aku mendapatkan sosok sepertimu? sosok yang mau bertahan dengan kekuranganku, bahkan mendemo kekuranganku dan mengarahkan ke arah yang lebih baik. Sosok yang tak pernah memandang latar belakangku, bahkan bertanya apa pekerjaan Bapakmu. Sosok yang menerima apa adanya, bukan ada apanya. Itulah sosok yang berhijab akan hatimu.
Kini aku harus melek dan harus ngucek-ucek mata untuk memperbaiki persepsi akan sosok itu. Sosok itu bukan yang mengandalkan daya tarik, untuk membuat orang-orang melirik. Sosok itu bukan sosok yang menshadaqohkan hatinya kemana-mana (Emangnya SCTV, satu untuk semua....hehehe), tapi sosok yang mau menjaga hatinya untuk orang yang berkomitmen padanya. Sosok yang mau menegur kesalahanku hingga mau meninju kesalahanku hingga luluh lantang dan membawanya ke podium kebenaran.
Aku akan berusaha mencari sosok itu, karena serasa omong kosong jika hanya menanti. Menanti ibarat menunggu buah jatuh dari pohonnya, tanpa berusaha memetik buah yang masak itu (Pasti juga nyesel kan, kalau buah yang metik orang lain...hehehe). Tentunya jika aku ingin mendapatkan sosok itu, harus memperbaiki kumuhnya akan sikapku. Sekali lagi, aku harus bertanya pada diriku apakah aku pantas mendapatkan sosok itu? aku akan berusaha memantaskan diri untuk orang yang pantas, tentunya dengan intropeksi. Bukan dengan jurus pelet, seperti yang sekarang populer yaitu MODUS, jurus kampanye diri untuk mendapatkan seseorang dengan kata-kata bak politisi (Muak kali digombalin mele...hehhee).
Kegagalan kisah lalu, sejatinya Allah menyadarkanku bahwa suatu saat akan memberikan sosok terbaik, yang ikhlas mau memperbaiki kekuranganku bukan mencemooh akan kekuranganku. Dan suatu saat aku mendapatkan buah yang pantas aku petik, dan mengambil hikmah disetiap buah yang dipetik orang. Karena tak selamanya kita harus memiliki, jika buah yang dipetik itu bahagia dengan orang lain. Dan aku yakin, Allah akan menyisakan buah yang pantas ku petik, tentunya pada KARYA SURGA PADA SEORANG HAWA........
Dengan segala kekurangan yang aku punya, pantaskah aku mendapatkan sosok sepertimu? sosok yang mau bertahan dengan kekuranganku, bahkan mendemo kekuranganku dan mengarahkan ke arah yang lebih baik. Sosok yang tak pernah memandang latar belakangku, bahkan bertanya apa pekerjaan Bapakmu. Sosok yang menerima apa adanya, bukan ada apanya. Itulah sosok yang berhijab akan hatimu.
Kini aku harus melek dan harus ngucek-ucek mata untuk memperbaiki persepsi akan sosok itu. Sosok itu bukan yang mengandalkan daya tarik, untuk membuat orang-orang melirik. Sosok itu bukan sosok yang menshadaqohkan hatinya kemana-mana (Emangnya SCTV, satu untuk semua....hehehe), tapi sosok yang mau menjaga hatinya untuk orang yang berkomitmen padanya. Sosok yang mau menegur kesalahanku hingga mau meninju kesalahanku hingga luluh lantang dan membawanya ke podium kebenaran.
Aku akan berusaha mencari sosok itu, karena serasa omong kosong jika hanya menanti. Menanti ibarat menunggu buah jatuh dari pohonnya, tanpa berusaha memetik buah yang masak itu (Pasti juga nyesel kan, kalau buah yang metik orang lain...hehehe). Tentunya jika aku ingin mendapatkan sosok itu, harus memperbaiki kumuhnya akan sikapku. Sekali lagi, aku harus bertanya pada diriku apakah aku pantas mendapatkan sosok itu? aku akan berusaha memantaskan diri untuk orang yang pantas, tentunya dengan intropeksi. Bukan dengan jurus pelet, seperti yang sekarang populer yaitu MODUS, jurus kampanye diri untuk mendapatkan seseorang dengan kata-kata bak politisi (Muak kali digombalin mele...hehhee).
Kegagalan kisah lalu, sejatinya Allah menyadarkanku bahwa suatu saat akan memberikan sosok terbaik, yang ikhlas mau memperbaiki kekuranganku bukan mencemooh akan kekuranganku. Dan suatu saat aku mendapatkan buah yang pantas aku petik, dan mengambil hikmah disetiap buah yang dipetik orang. Karena tak selamanya kita harus memiliki, jika buah yang dipetik itu bahagia dengan orang lain. Dan aku yakin, Allah akan menyisakan buah yang pantas ku petik, tentunya pada KARYA SURGA PADA SEORANG HAWA........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar