Sabtu, 25 Oktober 2014

NURMALA



Esok cerah, pagi membangunkan mimpi. Sinar mentari mengusir pekatnya malam, menandakan hari berganti. Hari yang menjadi pengukir prasasti mereka, dimana hari akan menjadi jawaban endingnya cerita putih abu-abu. Kini papan pengumuman, seakan tempat lautan kerumutan, berebut demi melihat selembar kertas lebar. YES LULUS...... kata yang terucap dari seorang pemuda, ia pun lari mencari sosok gadis yang bernama Nurmala. Senyum dan bangga langsung memecah pandangan mereka sambil mencuri untuk saling menatap. Rasa senyum kini menjadi linang, sekali ia memandang lagi. Mereka tau, lulus berarti akan memberikan cerita berbeda dimana mereka harus menjalani kisah bertarung dengan jarak. Ya.... Nurmala akan melanjutkan studinya ke semarang demi mempersinggahkan harapan orang tuanya untuk menjadi guru. Sementara Hasan harus merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Kisah cinta mereka memang sudah terjalin selama setahun, cinta yang ia jalani tanpa memandang status sosial. Nurmala adalah anak seorang guru yang dibesarkan dengan denyut nadi keserba adaan. Tapi nurmala adalah sosok sederhana tampil apa adanya tanpa memamerkan berasesories glamor. Sosok sederhana itulah yang memikat Hasan, yang bisa menaikkan kelasnya dari terpikat menjadi cinta melekat. Sementara hasan adalah anak petani, yang hidup bukan keserbaadaan tapi ia mensyukuri keapaadaan. Ia pun menyadari, keadaan tak mungkinkan ia untuk kuliah hingga ia memutuskan untuk bekerja.

Ia tau sosok wanita yang ia cintai, telah menandakan adanya jurang yang bernama status sosial. Apalagi hasan tak pernah direstui oleh orang tuanya nurmala untuk berhubungan dengan anaknya. Apalagi kalau bukan kontrasnya perbedaan pada status sosial mereka. Ibunya hanya mengizinkan anaknya berhubungan dengan anak kuliahan, sementara hasan kini statusnya adalah anak kuli payahan di metropolitan. Kadang keadaan inilah yang mempertekuk lututkan hasan pada pilihan kepasrahan untuk membiarkan nurmala bahagia dengan orang lain. Sekali lagi, nurmala bukanlah gadis yang mementingkan status sosial, ia selalu memotivasi hasan untuk memperjuangkan cintannya. Karena ia tau, bahagia adalah bersama dengan orang yang berhasil membahagiakan hatinya, bukan membeli kebahagiaan hatinya dengan harta ataupun keserba adaan.

Setahun hasan giat bekerja mengumpulkan uang demi bisa mengecap perguruan tinggi tentunya juga demi gadis yang ia perjuangkan. Selama setahun ia bekerja di swalayan sebagai kasir, dari jerih payahnya inilah ia bisa menyisihkan uang untuk kuliah.

Hari itu adalah hari pendaftaran kuliah, dengan modal tekat dengan diboncengi nekat ia mendaftar kuliah. Alhasil dia bisa diterima di perguruan tinggi negeri. Tapi apa daya uang yang ia sisihkan untuk kuliah dari hasil jerih payahnya tak bisa menebus untuk biaya pendaftaran ulang. Ia pun dikejar-kejar bingung, haruskah ia kuliah ? sementara uangnya buat daftar ulang pun tak cukup. Ia hanya berserah pada Tuhan, minta petunjuk jalan terbaik. Keesokkan harinya ia pergi ke bank untuk melakukan pendaftaran ulang dengan sisa uang kurangnya pinjam dari temannya, tak disangka pihak bank mengkonfirmasikan bahwa ia termasuk salah satu penerima beasiswa jadi tak usah membayar uang pendaftaran ulang. Betapa senangnya hati hasan, bahwa ia kini bisa merasakan bangku perguruan tinggi. Harapan untuk pembuktian pada orang tua nurmala masih ada. Pegang teguhnya meyakinkan diri.

Untuk menunjang kebutuhan sehari-hari sehabis kuliah, hasan bekerja dengan pamannya sebagai tukang jualan buah. Lelah memang kadang menjangkit tubuhnya tapi inilah pilihan hidupnya, untuk memegang komitmen dan memelihara komitmen itu agar tak punah dengan keluhan hidup. Ia tak mau menggantungkan nafasnya pada keluarganya di kampung, ia ingin mandiri untuk menggadaikan keringatnya demi keberhasilan. Ia ingin membuat melek ibunya nurmala, bahwa anak seorang petani pun mempunyai keberhasilan setara dengan anak-anak profesi apapun. Ia yakin Tuhan tak akan pilih kasih dalam pada nasib setiap hamba-Nya, tak memandang apapun sebuah profesi orang tua dimana anak tersebut dilahirkan.

Nurmala, seorang gadis yang selalu mendonori semangat dalam setiap menaklukkan kerasnya hidup. Dan nurmala juga, cahaya yang menyinari kala gairahnya mulai meredup. Maka ia yakin dialah gadis yang pantas ia perjuangkan. Perjuangkan dengan komitmen, dimana jarak tak akan memacetkan jalan cintanya. Cinta tunggal pada sesama yang tak pernah ia duakan, dan cintanya juga yang tak pernah ia gadaikan setianya untuk orang lain. 

Nurmala memang kuliah setahun lebih dahulu dari Hasan, artinya ia akan lulus lebih dahulu dari Hasan. Itu terjadi, setelah menyelesaikan 4 tahun studinya nurmala lulus dengan prestasi yang membanggakan. Betapa senangnya orang tuanya memandang anaknya lulus dengan predikat salah satu lulusan terbaik di universitasnya. Harapan orang tua melihat anak pertamanya menjadi sarjana terbaik tercapai, dan sebentar lagi ia akan jadi guru. Seperti itu angan yang terlintas dari orang tuanya. Tak lama kemudian ia pun menjadi seorang guru di salah satu SMA di kampungnya.

Penantian nurmala pada hasan tak menjenuhkan cintanya sedikit pun, ia setia menunggu hasan dalam menyelesaikan studinya. Karena ia yakin dialah sosok yang mampu membahagiakan hatinya.

. . . . .
Sepi merasuk dalam suasana, di dapur suara penggorengan pun mengusir suasana sepi itu.
“Ibuuuu...... cobain deh masakan nurmala? Pasti ibu suka?” teriaknya
“ Iya enak tapi terlalu asin” apa kamu pingin mau nikah ya? Ledek ibunya.
“Akh ibu, nurmala kan baru saja lulus masa’ pingin cepet nikah” ambegnya.
“ Tadi malam ibu sudah rembugkan sama bapak, kita sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan anak temen bapak kamu. Orangnya ganteng, dia seorang polisi. Kamu kan sudah cukup berumur, usiamu sudah 23 tahun. Itu sudah termasuk usia cukup seorang wanita  untuk nikah” jawab ibunya dengan serius.
“ gak bu, nurmala hanya ingin nikah pada sosok yang nurmala cintai” tegasnya.
“Maksudmu sama hasan? ia hanya anak seorang petani, apa yang kamu banggakan pada sosok seperti dia. Mau beri makan apa anak-anakmu nanti” omel ibunya.
“Apakah harta akan memberi kita bahagia bu? Apakah harta bisa membeli kebahagiaan? Dan apakah status sosial penghambat kebahagiaan bu?” rintihnya.
“Gak, pokoknya kamu harus nikah dengan anak temen bapak kamu. Ibu tak memaksa waktunya yang penting kamu siap nikah dengannya” tegas ibunya.
“Nurmala, ingin tanya. Apakah ibu nikah dengan bapak, bapak anak orang kaya?” aduhnya.
“Jaman dulu kan beda, dengan jaman sekarang. Ibu gak mau tau kamu harus nikah dengan pemuda itu” bentak ibunya.

Tak ada jawaban lagi pada gadis itu, ia langsung lari ke kamar menumpahkan segala tangisnya pada ketidak adilan. Hatinya dijajah bingung apa yang akan ia katakan pada hasan kalau ia tau. Apakah ia akan tega cinta yang dirawat selama 5 tahun begitu saja ia akan berikan pada orang lain. Dihatinya hanya ada hasan, ia tak akan pernah tega dengan pejuangan hasan selama ini. Dan yang paling meneror hatinya adalah apakah dia sanggup pura-pura bahagia dengan orang bukan pilihannya. Bingung itulah episode dalam hatinya saat itu.
Ia pun menceritakan kejadian itu pada hasan, tapi nurmala meyakinkan hasan bahwa cintanya untuk dirinya. Ia akan berjuang bersama hasan untuk meyakinka orang tuanya. Tak dipungkiri keadaaan dilematis menerpa hasan.

“Jika bahagiamu bukan sama aku, aku rela melihat senyummu dengan orang lain. Asal restu orang tua memberimu” tanya hasan.
“Dimana aku akan bahagia, jika aku hanya sanggup berpura-pura tersenyum dengan orang lain” jawab nurmala.
“Tapi apakah orang tuamu akan bahagia, melihat pendamping hidup sosok seperti aku?” tanya baliknya.
“kamu jangan ngomong seperti itu. Kita berjuang bersama meyakinkan orang tuaku. Ketahuilah jangan memaksa aku bahagia dengan orang lain, jika bahagiaku hanya untukmu” imbuh nurmala meyakinkan hasan.

Hari berotasi ke hari, dan saat itu kejadian pun telah tiba. Dimana rombongan dari teman bapaknya nurmala datang ke rumahnya untuk menanyakan perihal tunangan anaknya.
“Nurmala..... sini nak?” Panggil ibunya.
“Yaaaaaaaa... buu” sautnya.
“Kenalin ini Rendi. Calon tunanganmu. Dia kesini bersama rombongan untuk menanyakan perihal tentang tunangan dengan kamu” jelas ibunya.
“apa?” kagetnya
“iyaa.. seperti yang ibu ceritakan beberapa hari yang lalu” ingatin ibunya.
“aku tidak bisa menjawab sekarang bu, beri aku waktu untuk memutuskan” imbuhnya.
“berapa hari?” tanya Rendi
“tiga bulan” jawab nurmala
“Yauda, aku tunggu” rendi menyanggupi.

Ia langsung ke kamar, karena baginya kamarlah tempat yang mau mendengarkan curhatannya. Ia tumpahkan segala kesedihannya. Ia mendemo pada sunyi, seakan hidup ini tidak adil. Seakan hidup ingin memaksakan bulan dengan mentari, yang akan pernah sanggup untuk bersatu. Ia selalu berdo’a pada Allah, agar memberi jalan terbaik pada keputusannya.

Ia pun keluar dari kamar, dan ia menghampiri bapaknya yang lagi nonton tv di ruang tamu.
“Nurmala, ingin tanya pada bapak. Apakah air dan minyak sanggup bersatu walau dipaksakan bercampur?” tanyanya.
“Air dan minyak tak akan bersatu. Kenapa kok nurmala tanya begitu?” jelas bapaknya sambil penasaran.
“Begitu pun nurmala pak, nurmala tak akan pernah bahagia jika dijodohkan dengan bukan pilihan nurmala. Walau pun bapak memaksa, nurmala tak sanggup untuk berpura-pura bahagia. Apa bapak akan tega melihat itu?” jawabnya sambil berkaca-kaca bola matanya.
“Iya bapak merasakan apa yang kamu rasakan. Bapak juga tau cintamu hanya untuk hasan. Bapak juga sebenarnya tak memaksakan perjodohan ini. Tapi ini kemauan ibumu. Kamu tau sendiri kan watak ibumu?” jawab bapaknya.
“Makanya nurmala bilang sama bapak. Karena nurmala tau ibu keras kepala. Ku harap bapak mau meluluhkan hati ibu untuk nurmala. Andai bapak tau bahwa Hasan disana lagi berjuang menyelesaikan studi sarjananya, karena ia selalu ingat kata ibu bahwa tak memperbolehkan anaknya berhubungan dengan anak bukan kuliahan. Pasti bapak juga pernah merasakan seperti itu. Ku harap bapak mengerti.” Jawabnya.
“Iya bapak mengerti, bapak akan coba membujuk ibumu. Bapak juga tak tega melihat anak bapak nangis terus”. Bujuk bapaknya sambil menenangkan nurmala.

Malam hari bapaknya melihat pintu kamar nurmala membuka, ia menghampiri dan melihat nurmala tidur terlelap. Bapaknya melihat buku diary yang terbuka ia pun membacan tulisan tersebut...

Aku ingin seperti mata air,
mengalir untuk menjumpai mata air yang lain untuk bersatu,
Maka jangan paksakan aku menyatu dengan minyak,
karena walau bagaimanapun aku tak bisa menyatu,
bahkan tersenyum. . .
Mengertilah kemurnian mata air untuk siapa.
Jangan paksakan...

Membaca tulisan tersebut hati bapaknya langsung terhenyap, dan semakin tau ketulusan hati anaknya untuk Hasan. Bapaknya pun mebawa buku tersebut untuk dilihatkan pada ibunya.

“ Lihat bu, tulisan ini cari tau maknanya. Ini tulisan nurmala” suruh bapaknya.
“Nurmala, aja lebay pak....” acuh ibunya.
“Ibu, ku harap ibu mengerti. Sekarang bukan jaman siti nurbaya. Biarlah nurmala bahagia dengan pilihan hatinya. Jangan diskriminasi dengan anak bu, ibu juga dulu nikah dengan bapak juga bapak statusnya bukan anak orang kaya. Bapak seperti sekarang karena jerih payah bapak sendiri” jawab bapak sambil menyadarkan ibu.
“Tapi ibu sudah berjanji pada rendi pak, jangan buat malu keluarga kita” ujar ibu.

. . . . . .
Beberapa bulan berlalu, hasan pun berhasil menyelesaiaka studinya. Ia juga merupakan lulusan terbaik dan kini ia dijadikan sebagai asisten dosen. Ia pun pulang ke kampung untuk membuktikan pada orang tua nurmala, selama ini hasil jerih payahnya. Membuktikan bahwa anak petani yang ia cemooh bisa menjadi orang sukses.

Hasan datang ke rumah nurmala, ia heran di depan ada mobil. Ia pun bergegas masuk ke rumah nurmala. Betapa ia terkejut bahwa ia datang bertepatan dengan lamaran rendi kepada nurmala. Tapi ia belum telat bahwa nurmala belum menyatakan kesanggupan atas lamaran itu. Dilematis dalam pilihan nurmala, tapi ia memperjuangkan cintanya Hasan. Ia menolak lamaran rendi. Ia meyakinkan ibunya, bahwa hasan selama ini berjuang demi membahagiakan dirinya. Ia pun memberi lembaran kertas seperti apa yang ditulis di buku diarynya.

Aku ingin seperti mata air,
mengalir untuk menjumpai mata air yang lain untuk bersatu,
Maka jangan paksakan aku menyatu dengan minyak,
karena walau bagaimanapun aku tak bisa menyatu,
bahkan tersenyum. . .
Mengertilah kemurnian mata air untuk siapa.
Jangan paksakan...

Ibunya pun melinangkan air matanya, dan menghampiri nurmala untuk memeluk anaknya.
“Ibu udah tau tulisan ini, dari bapakmu. Maafkan ibu, ibu sekarang tak akan memaksamu nikah dengan orang lain. Ibu mengizinkan kamu nikah dengan pilihan kamu. Ibu baru sadar selama ini hasan berjuang demi membahagiakan kamu dan ibu menilai salah tentangnya” Imbuh ibunya sambil tersedu.
“Bener ibu, merestui aku nikah dengan hasan?” tanya nurmala
“He’emmm” jawab ibunya yang masih tersedu.



Sabtu, 31 Mei 2014

ANAK JALAN, DITINGGAL JALAN-JALAN

Kemiskinan selalu menimbulkan efek samping yang tak karuan, jika penyakit ini sudah kronis tak jarang penyakit sosial pun mewabah. Tindakan kriminal itulah implikasinya. Banyak kita temui fenomena tindak kriminal akibat ulah dari gembongnya penyakit sosial yang akrab disebut dengan kemiskinan. Penyebab dari efek samping penyakit ini adalah virus pengangguran, sehingga mereka menghalalkan apapun untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tak jarang mencopet menjadi lowongan kerja baru, karena sempitnya lapangan kerja. Mengemis menjadi hobi, karena galaunya mencari kerja. Selain itu banyak anak usia dibawah umur, dipekerjaan untuk penghasilan tambahan.

Seperti sering aku jumpai, banyak anak-anak berkeliaran ditempat umum bahkan kendaraan umum pun tak luput dari tempat mengais rezekinya. Mulai dari alat musik sebagai modal, ataupun dengan mengandalkan suara melas untuk membuat orang hibah padanya. Miris memang fenomena ini, seharusnya diusia mereka antusias-antusiasnya mengenyang pendidikan malah harus bertarung dengan kerasnya hidup untuk mencari rizki. Bahkan tak sedikit dari mereka bukan rupiah yang mereka dapatkan tapi cacian yang mereka kenyang. Aku salut pada mereka, mereka bukanlah orang cengeng tapi kebal pada kata-kata cemooh. Sekali lagi, diusia mereka seharusnya asyik main layang-layang, malah dibuat melayang di jalan tidak jelas.

Padahal ku dengar dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945, “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Maka secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa semua orang miskin dan semua anak terlantar pada prinsipnya dipelihara oleh Negara, tetapi pada kenyataannya yang ada di lapangan bahwa tidak semua orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. Yang ada dalam benak mereka, mereka terbiarkan terlantar dan terbiarkan kurang pintar. Tak jarang bukan negara yang memelihara mereka tapi preman yang membudi dayakan mereka. Mereka dipekerjakan, diberi akselerasi duluan menjadi orang dewasa sebelum waktunya, dengan merasakan membanting tulang. Mereka dididik untuk mengamen dan mengemis, bahkan diberi ekstrakurikuler mencopet. Inilah pembangunan akhlak yang koplak.

Bahkan hukum ini kadang terlalu lebay, anak jalanan hanya karena mencuri sandal jepit dihukum pidana sementara koruptor yang kerjaannya main petak umpet uang rakyat dengan gampangnya keluar dari pidana malah ada yang asyik jalan-jalan. Dimanakah persamaan hukum negeri ini? sekali lagi uang sebagai alat hipnotisnya ketidak adilan.

Sampai kapan mereka akan terbiarkan di jalan, dan ditinggal jalan-jalan oleh pemerintah. Terlantar dan tak terurus, meninggalkan cerita ibu kota tak sebaik ibu kita. Dan semoga pemerintah baru melek akan fenomena ini.....

Rabu, 30 April 2014

KEBANGKITAN SIMON SANTOSO

Belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan. Ilmu yang tak dikuasai akan menjelma kedalam diri manusia menjadi sebuah kekuatan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seorang yg bukan penakut.

Dan itulah yg telah dilakukan oleh seorang Simon Santoso. Dia berani belajar dari keterpurukan, menantang segala ketidakmungkinan, mematahkan segala pandangan bahwa dia telah habis. Dua bulan Simon belajar dengan keras untuk membenahi segala kekurangannya setelah memutuskan keluar dari pelatnas. Pelatnas bukanlah satu-satunya tempat Simon untuk belajar dan mengantungkan mimpinya. Dua bulan lamanya Simon belajar hingga dia benar-benar siap untuk bertempur kembali.

Malaysia Open GPG 2014 menjadi pembuktian pertama bahwa Simon belum habis. Menjadi unggulan ke15 dan tidak perlu merangkak dari kualifikasi tidak membuat Simon terlena. Pertandingan demi pertandingan Simon lalui hingga akhirnya dia mampu mengukuhkan diri menjadi yg terbaik dan mematahkan segala kicauan negative tetang dirinya. Namun gelar sekelas GPG belum mampu meyakinkan pencinta bulutangkis bahwa Simon belum habis.

Singapore Open Super Series adalah ajang pembuktian berikutnya. Dalam Singapore Open Super Series ini Simon harus merangkak dari kualifikasi sebelum akhirnya mampu menembus babak utama, Simon tampil begitu meyakinkan pada Singapore Open Super Series, ini karna mampu menundukkan Du pengyu pemain unggulan ke5 asal china.

Di final Simon ditantang Lee Chong Wei pemain terbaik dunia asal Malaysia. Berbagai pandangan bermunculan tentang laga ini, Berpandangan bahwa Simon membutuhkan keajaiban untuk bisa menghempaskan Lee Chong Wei. Namun siapa sangka bahwa ternyata Simon telah belajar dan apa yang dia pelajari telah menjelma menjadi sebuah kekuatan yang mampu mematahkan segala ketidakmungkinan dan kemustahilan. Teramat sangat mengejutkan ternyata Simon mampu menghentikan Lee Chong Wei  untuk berdiri tegak dipuncak podium juara dua set langsung 21-15 21-10. Simon mampu menghadirkan mimpi buruk untuk sang pemain terbaik dunia.

Simon Santoso telah belajar dengan baik sehingga mampu membuktikan diri bahwa ia belum habis.
Mengirim kekalahan terburuk untuk Lee Chong Wei adalah salah satu hasil dari belajarnya Simon dengan keras selama dua bulan. Sekaligus sebuah peringatan untuk para pemain TOP dunia lainnya bahwa Simon telah TERLAHIR KEMBALI.

Namun ini barulah awal dari kelahiran kembali Simon Santoso. Simon Santoso harus berani untuk belajar dengan keras lagi untuk membuktikan bahwa dia masih mampu bersaing dengan pemain TOP dunia lainnya. Simon bukanlah seorang penakut yg tak berani melangkah meski telah keluar dari pelatnas. Simon berani melangkah dengan pasti untuk menjadi yg terbaik dengan jalannya sendiri.

Rabu, 23 April 2014

KARYA SURGA PADA SEORANG HAWA

Aku sangat sadar, sangat-sangat sadar. Aku juga melek akan diriku ini. Aku memang tak sekuat Umar bin Khattab, aku juga tak setampan Nabi Yusuf, Aku juga tak sekaya Nabi Sulaiman, juga tak seterpuji Nabi Muhammad. Aku hanya pribadi tak sempurna untuk dicintai, pribadi yang penuh dengan kekurangan hingga ku membutuhkan seseorang untuk memperbaiki kekuranganku.

Dengan segala kekurangan yang aku punya, pantaskah aku mendapatkan sosok sepertimu? sosok yang mau bertahan dengan kekuranganku, bahkan mendemo kekuranganku dan mengarahkan ke arah yang lebih baik. Sosok yang tak pernah memandang latar belakangku, bahkan bertanya apa pekerjaan Bapakmu. Sosok yang menerima apa adanya, bukan ada apanya. Itulah sosok yang berhijab akan hatimu.

Kini aku harus melek dan harus ngucek-ucek mata untuk memperbaiki persepsi akan sosok itu. Sosok itu bukan yang mengandalkan daya tarik, untuk membuat orang-orang melirik. Sosok itu bukan sosok yang menshadaqohkan hatinya kemana-mana (Emangnya SCTV, satu untuk semua....hehehe), tapi sosok yang mau menjaga hatinya untuk orang yang berkomitmen padanya. Sosok yang mau menegur kesalahanku hingga mau meninju kesalahanku hingga luluh lantang dan membawanya ke podium kebenaran.

Aku akan berusaha mencari sosok itu, karena serasa omong kosong jika hanya menanti. Menanti ibarat menunggu buah jatuh dari pohonnya, tanpa berusaha memetik buah yang masak itu (Pasti juga nyesel kan, kalau buah yang metik orang lain...hehehe). Tentunya jika aku ingin mendapatkan sosok itu, harus memperbaiki kumuhnya akan sikapku. Sekali lagi, aku harus bertanya  pada diriku apakah aku pantas mendapatkan sosok itu? aku akan berusaha memantaskan diri untuk orang yang pantas, tentunya dengan intropeksi. Bukan dengan jurus pelet, seperti yang sekarang populer yaitu MODUS, jurus kampanye diri untuk mendapatkan seseorang dengan kata-kata bak politisi (Muak kali digombalin mele...hehhee).

Kegagalan kisah lalu, sejatinya Allah menyadarkanku bahwa suatu saat akan memberikan sosok terbaik, yang ikhlas mau memperbaiki kekuranganku bukan mencemooh akan kekuranganku. Dan suatu saat aku mendapatkan buah yang pantas aku petik, dan mengambil hikmah disetiap buah yang dipetik orang. Karena tak selamanya kita harus memiliki, jika buah yang dipetik itu bahagia dengan orang lain. Dan aku yakin, Allah akan menyisakan buah yang pantas ku petik, tentunya pada KARYA SURGA PADA SEORANG HAWA........

Sabtu, 19 April 2014

"BELOK" DEMI PROFESI

Pemerintah kota begitu dipusingkan dengan kehadiran “orang-orang asing” yang datang dari berbagai daerah untuk mengadu nasib hidup di kota. Urbanisasi memang bukanlah termasuk tindakan yang melanggar aturan. Merujuk bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang memang membebaskan persebaran warganya, karena itu adalah hak setiap warga untuk mencari penghidupan yang layak dimanapun tempatnya. Akan tetapi yang jadi masalah adalah jika urbanisasi ini dihadapkan pada sebuah realitas, yakni menumpuknya konsentrasi migrasi pada beberapa kota tertentu. Akibatnya nampak terlihat sekarang ini seperti di Jakarta, kondisi kota sudah tidak mampu lagi menampung jumlah penduduknya. Apalagi jika frekuensi urbanisasi kian tahun semakin bertambah. Tengoklah Provinsi DKI Jakarta yang kedatangan pendatang baru rata-rata 200.000-250.00 ribu jiwa pertahunnya, padahal kebutuhan 8,7 juta warganya (13,2 juta versi PBB) belum sepenuhnya bisa dipenuhi Pemprov DKI Jakarta, seperti perumahan, air minum, pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan.
Jakarta sebagai pusat perekonomian Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang tinggal didaerah untuk mencari pekerjaan disana. Walaupun mereka datang tanpa memiliki kemampuan atau keterampilan lebih, serta tidak ada jaminan bahwa mereka akan mendapatkan pekerjaan tetap tidak menyurutkan keinginan mereka untuk datang ke kota. Mungkin hal ini disebabkan karena banyaknya alasan yang mengatakan bahwa penghasilan bekerja didaerah tidak sebesar penghasilan mereka yang bekerja dikota. 
Tapi dalam realitanya urbanisasi justru menjadi biang kerok berbagai permasalahan pelik kota. Kemiskinan, pengangguran, pemukiman kumuh, banyaknya gepeng (gelandangan dan pengemis), tingkat kriminalitas tinggi adalah sebagian contoh akibat langsung maupun tidak langsung dari urbanisasi. Jadi tidaklah janggal jika pemerintah kota menjadi pihak yang paling getol  menghadapi “ancaman urbanisasi”.
Banyaknya pengangguran di ibu kota, itu bukti bahwa sulitnya mencari pekerjaan disana. Keinginan apa yang mereka canangkan untuk mencari pekerjaan yang layak ternyata tak semudah apa yang mereka bayangkan. Jika dihadapkan dengan problematik pengangguran, akan menjadi banyaknya tindakan kriminal yang terjadi. Itu karena tingkat frustasi mereka yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan, sehingga mereka menghalalkan cara apapun untuk bisa bertahan hidup seperti mereka mendadak memperoleh jabatan sebagai tukang copet, perambok, penodong dan sebangainya. Tak hanya itu, kadang mereka juga harus menyalahkan kodrat dan BELOK menjadi banci demi mencari benda ajaib apa yang namanya rupiah untuk menemuhi kebutuhan ekonomi.
Seperti apa yang saya dan teman-teman saya temui, ketika observasi kaum BELOK di daerah Bermis. Fenomena Banci di daerah itu seakan mengganggu lalu lintas. Ketika lampu merah nyala, mereka mengamen dengan dandanan menor tapi berotot, itu karena kodrat asli mereka adalah cowok. Mereka mengetuk-ngetuk mobil untuk memintai uang, kadang kalau ada pengendara tak ngasih uang mereka ngata-ngatain. Tak hanya itu, mereka juga sering melakukan tindak kriminal seperti menodong dan mencopet. 
Kami pun tertarik untuk melakukan pengamatan terhadap fenomena banci ini. Kami melakukan wawancara terhadap tukang koran yang sudah bekerja 25 tahun menjual koran di daerah lampu merah Bermis. Menurut tukang koran tersebut ada dua jenis banci yang sering mengamen disana yaitu banci natural dan banci profesi. Banci natural merupakan banci asli dan sehari-hari juga berpenampilan banci. Spesies banci ini, hanya melakukan pekerjaan sebagai pengamen dan juga sering dibawa oleh pengendara ntah kemana tapi mereka tidak sampai melakukan tindak kriminal. Beda dengan banci profesi, mereka sama-sama melakukan tindakan mengamen dan kadang suka dibawa oleh pengendara tapi mereka juga kalau hasil mengamen pendapatannya kecil suka melakukan tindak kriminal seperti mencopet dan menodong.
Penjual koran ini, juga kenal akrab dengan salah satu banci namanya kalau siang Alex dan kalau malam namanya Jenny. Jenis banci ini merupakan spesies banci profesi. Menurut keterangannya, banci tersebut kalau pagi berprofesi sebagai penjual nasi goreng dan baru ketika sore sampai malam mereka berganti profesi sebagai banci.  Awalnya mereka menjadi banci karena mereka frustasi tak kunjung dapat pekerjaan, kemudian mereka diajak oleh salah satu temennya yang juga seorang banci. Sehingga mereka pun ikut bergabung, dan menjadi banci sebagai profesi. Dari hasil mereka BELOK menjadi Banci, mereka bisa mengantongi 200 ribu dalam sehari. Dengan pendapatan seperti itu, menjadi candu mereka sebagai banci sebagai pekerjaan sampingan.
Padahal dalam kehidupan berkeluarga jenis banci profesi ini nornal dengan suami gentle. Mereka normal mempunyai istri dan anak. Ironisnya, istrinya mengetahui profesi suaminya sebagai banci tapi ia tak melarang suaminya melakukan pekerjaan itu. Mungkin istrinya tau betapa sulitnya mencari pekerjaan dan menghalalkan suaminya melakukan pekerjaan itu demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Istri mau melarang, tapi sadar mau makan apa. Sehingga apa boleh buat, ia dihadapkan pilihan apa yang namanya pasrah. Rata-rata banci profesi ini, yang sudah berkeluarga masih mempunyai anak kecil. Dan mau tidak mau suatu saat mereka akan dihadapkan oleh keadaan dilematis, ketika anaknya mempertanyakan apa pekerjaan ayahnya. Mereka pun pasti akan menutupi pekerjaannya di depan anaknya, agar tak membuat malu anaknya dengan pekerjaan ayahnya.
Kami pun mewawancarai Dinas Sosial, yang berbekerja memantau lalu lintas di sekitar situ. Keadaan Dinas Sosial, membuat jam kerja banci banci semakin sempit. Dulu ketika belum ada Dinas Sosial yang memantau keamanan di sekitar situ, banci-banci tersebut bisa leluasa, bahkan sering melakukan tindakan kriminal. Dinas Sosial bekerja disitu dari jam 14.00-23.00, dari jam penjagaan membuat banci jarang beroperasi disitu tapi selepas jam pemantauan mereka sering muncul bahkan sampai subuh. Kalaupun ada yang sampai ketahuan oleh Dinas Sosial, mereka ditangkap dan dibawa ke markas besar mereka di Cipayung untuk dilakukan karantina pada mereka. Masa karantina mereka biasanya sampai 3 bulan, disitu mereka dijamin makan dan tempat tidur gratis. Bahkan mereka diajarkan keterampilan menjahit dan menyablon agar mereka mempunyai keterampilan selepas dari masa karantina. Tapi kembali lagi, selepas dari karantina Dinas Sosial cuek pada mereka mau berbuat apa, entah mereka mau melanjutkan keterampilannya atau tidak, dinas sosial membiarkannya saja.
Itulah polemik di Jakarta, dampak kaum urban menghadirkan permasalahan baru. Keinginan mencari pekerjaan gampang di ibu kota, ternyata tak segampang seperti apa yang mereka bayangkan kalau tidak diimbangi dengan keterampilan dan kreativitas. Justru akan menimbulkan penyakit sosial baru seperti merambaknya angka pengangguran. Itulah pekerjaan rumah pemerintah ibu kota, bagaimana caranya mencari obat mujarab untuk mengatasi pengangguran.
 
MENCARI PEKERJAAN DI JAKARTA TAK SEGAMPANG OMONGAN ORANG, KALAU TIDAK DIBEKALI DENGAN KETERAMPILAN DAN KREATIVITAS.



Sabtu, 22 Maret 2014

AKHIRNYA JUARA



Sepeda jepang kini praktis menjadi sisa peninggalan warisan, ia kayuh tak mempedulikan zaman yang semakin digrogoti globalisasi. Gerombolan temen-temen bersepeda motor mengklason seakan mencemooh, tapi ia bermental baja berani mengacuhkan itu. Empat kilo meter ia tempuh, dari sejak mentari bangun dari tidurnya sampai tujuan bel sekolah mengalarm pertanda masuk. Dia adalah Benny, seorang penggembala kambing yang kata temen-temen seprofesinya memiliki cita-cita yang tinggi yaitu LULUS SMA. Bagi kalangan temen-temennya lulus SMA adalah prestasi yang langka, karena spesies prestasi ini tak dijumpai di temen seprofesinya.

Dia dibesarkan seorang ibu penjual gethuk singkong, yang menjajakan barang dagangannya keliling kampung dengan kendaraan gratis yang namanya alas kaki. Dan bapaknya meninggal dua tahun yang lalu akibat penyakit paru-paru, ia hanya meninggalkan warisan berupa sepeda jepang dan kambing. Kata ibunya sepeda jepang ini meninggalkan sejarah yang panjang, karena selalu dipakai bapaknya untuk memboncengi ibunya sehabis malam mingguan. Sampai menjadi sejarahnya, di sepeda tersebut ditulis tanggal jadian mereka. Sementara ia mempunyai dua adik yang satu duduk di bangku SMP dan yang satu masih SD.

Walau mereka hidup dalam naungan ekonomi yang pas-pasan, tapi ibunya selalu menomorsatukan pendidikan anak-anaknya, bahkan ibunya tak pernah mempedulikan apa yang namanya beli baju lebaran. Itu semua beliau lakukan karena tak ingin menyelingkuhkan hak pendidikan anak-anaknya.

Sebelum meninggal, cita-cita bapaknya adalah melihat Benny juara satu. Memang Benny anak yang pandai tapi ia hanya selalu menjadi runner up dikelasnya, hanya kalah dengan Tuti yang katanya kalau belajar dari adzan magrib sampai komat adzan subuh. Cita-cita itu belum bisa Benny rengkuh semasa bapaknya hidup. Ia selalu teringat harapan beliau itu, setiap kenaikkan kelas ia selalu meningkatkan belajarnya, bahkan sampai kadang ia lupa kalau belajar sambil menggembala tau-tau kambingnya PDKT dan pergi dengan kambing temenya tanpa sepengetahuannya.

Dikalangan pergaulannya, dia adalah satu-satunya pemuda yang selalu puasa dari apa yang namanya merokok. Ia tak pernah peduli ketika temen-temennya mengiming-imingi rokok, walau temennya mengatakan rasanya lebih enak dari strowberry. Ia hanya mengacuhkan itu, ia belajar dari pengalaman bapaknya yang merupakan perokok aktif hingga terjangkit pada penyakit paru-paru. Ketraumaan itulah yang membuat benny enggan untuk merokok.

Kini semester berganti semester, ia masih mencari gimana caranya memperoleh resep untuk mengalahkan Tuti. Dan ia menyadari ini adalah semester terakhir, artinya ini adalah kesempatan terakhir untuk mempersinggahkan cita-cita bapaknya. Ia pun meningkatkan belajarnya, sampai disetiap dinding ruangan ia tempeli tulisan “ JANGAN LUPA BELAJAR, SI TUTI DISANA LAGI BELAJAR, AYO KEJAR SAINGANMU”. Strategi itulah yang ia lakukan untuk selalu mengingatkan belajar dan memotivasinya untuk bisa menjadi nomor satu di kelasnya. Dan ketika mau ujian nasional ia lebih tingkatkan belajar, ia ikuti gaya belajar Tuti belajar bahkan ia tambah lebih ekstrim yaitu bejalar dari ayam ngorok sampai ayam berkokok. Ia tau karena ini adalah pembuktian terakhir benny untuk bapaknya. Ia tak lupa mengeposkan doa disetiap mau belajar. 

Dan akhirnya ujian nasional tiba, dia tak pernah panik dalam mengerjakan soal-soalnya. Ia kerjakan dengan teliti. Sampai pada akhirnya 4 hari masa ujian nasional dapat terlewati. Ia pun tak lupa mengeposkan doa agar diberi yang terbaik atas hasil kerja kerasnya. Dan pengumuman kelulusan pun tiba, tak disangka dalam pengumuman yang dikumandangkan kepala sekolah ia menjadi lulusan terbaik, artinya ia bukan hanya juara di kelasnya tapi juga di sekolahnya. Betapa gembiranya menghinggapi hati benny, akhirnya ia bisa mewujudkan cita-cita bapaknya. Tapi sayang ketika ia bisa mewujudkan harapan itu, bapaknya gak melihatnya. Setidaknya ia bisa mempersinggahkan cita-cita bapaknya, dan itulah impiannya. Memang kesungguhan akan berbuat adil pada usaha kita.

Sabtu, 22 Februari 2014

CINTA ORGANISASI BUKAN BERORGANISASI KARENA CINTA



Oganisasi adalah wadah yang terdiri atas sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama. Dalam organisasi akan dijumpai orang dengan berbagai sifat dan karakternya. Organisasi terkadang akan kehilangan anggotanya setelah para anggota tersebut mencapai titik kejenuhan.

Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan-pendekatan yang jitu agar organisasi itu tidak tinggal nama. Perlu adanya generasi penerus yang akan meneruskan perjuangan dalam organisasi tersebut.

Terkadang, orang memasuki organisasi tidak tulus semata-mata ingin memajukan organisasi tersebut. Bisa jadi seseorang mengikuti suatu organisasi karena ada orang yang ditaksirnya atau ada misi tertentu tentang sesuatu tujuan.

Tak bisa dipungkiri memang, pendekatan yang agak menuju tanda kutip memang sangat ampuh sekali untuk menarik anggota agar tertarik masuk dalam suatu organisasi. Cinta dalam organisasi pada dasarnya tidak salah. Saya sangat membetulkan hal itu, sesuai dengan pepatah jawa ‘tresno jalaran kulino’ , wajar karena mereka kerap kali berjumpa untuk melakukan perbincangan mengenai banyak hal. Namun disini diperlukan keprofesionalisme, menjadikan keharmonisan organisasi tetap utuh tanpa terjangkit kerisihan ataupun terserang syndrome sering rapat hanya karena ingin melihat si doi.
 
Namun terkadang meraka salah kaprah, mereka aktif di sebuah organisasi hanya karna ingin bertemu pasangannya bukan untuk belajar bagaimana cara berorganisasi baik tapi ada maksud lain yang direncakan secara perasaan. Tetapi ironisnya ketika terjadi pertengkaran di antara kedua belah pihak, rasa untuk berorganisasipun akan lenyap lantaran hanya karena hal sepele yaitu masalah pribadi mereka yang berimbas pada semangat awal untuk berjuang dalam belajar berorganisasi. Itu akan berdampak negatif pada proses belajar mereka, tentunya mereka belum paham memilah persoalan antara urusan pribadi dan urusan organisasi.

Hal itu bukanlah sebuah indikasi bahwasannya kita dilarang untuk berbuat hal tersebut tapi cobalah kita memahami tentang pemetaan antara perasaan dan pengembangan diri dalam dunia organisasi, dan realitanya banyak orang – orang mendapatkan jadohnya di dunia tersebut  tanpa ada masalah namun perlu kita tinjau kembali bahwa hubungannya harus professional artinya komitmen perlu ada untuk meminimalisir sebuah masalah yang kemungkinan besar tidak berdampak pada karir dan organisasi. Karena bagaimanapun kita harus berfikir dewasa untuk menjaga nama baik sebuah organisasi yang kita pelajari.

Okey.... Cintailah organisasi bukan berorganisasi karena cinta, organisasi bukan wadah aji mumpung untuk mencomblangkan diri dengan seseorang tapi organisasi adalah mencomblangkan aspirasi-aspirasi untuk satu tujuan bersama. Jadikalah organisasi sebagai wadah yang sehat untuk berdiskusi dan jagalah keharmonisan kekeluargaan agar tetap utuh.

SEMANGAT BERORGANISASI, BERINSPIRASI DAN TENTUNYA TANPA SENSI... :)