Esok
cerah, pagi membangunkan mimpi. Sinar mentari mengusir pekatnya malam,
menandakan hari berganti. Hari yang menjadi pengukir prasasti mereka, dimana
hari akan menjadi jawaban endingnya cerita putih abu-abu. Kini papan
pengumuman, seakan tempat lautan kerumutan, berebut demi melihat selembar
kertas lebar. YES LULUS...... kata yang terucap dari seorang pemuda, ia pun
lari mencari sosok gadis yang bernama Nurmala. Senyum dan bangga langsung
memecah pandangan mereka sambil mencuri untuk saling menatap. Rasa senyum kini
menjadi linang, sekali ia memandang lagi. Mereka tau, lulus berarti akan
memberikan cerita berbeda dimana mereka harus menjalani kisah bertarung dengan
jarak. Ya.... Nurmala akan melanjutkan studinya ke semarang demi mempersinggahkan
harapan orang tuanya untuk menjadi guru. Sementara Hasan harus merantau ke
Jakarta untuk mencari pekerjaan. Kisah cinta mereka memang sudah terjalin
selama setahun, cinta yang ia jalani tanpa memandang status sosial. Nurmala
adalah anak seorang guru yang dibesarkan dengan denyut nadi keserba adaan. Tapi
nurmala adalah sosok sederhana tampil apa adanya tanpa memamerkan berasesories
glamor. Sosok sederhana itulah yang memikat Hasan, yang bisa menaikkan kelasnya
dari terpikat menjadi cinta melekat. Sementara hasan adalah anak petani, yang
hidup bukan keserbaadaan tapi ia mensyukuri keapaadaan. Ia pun menyadari,
keadaan tak mungkinkan ia untuk kuliah hingga ia memutuskan untuk bekerja.
Ia
tau sosok wanita yang ia cintai, telah menandakan adanya jurang yang bernama
status sosial. Apalagi hasan tak pernah direstui oleh orang tuanya nurmala
untuk berhubungan dengan anaknya. Apalagi kalau bukan kontrasnya perbedaan pada
status sosial mereka. Ibunya hanya mengizinkan anaknya berhubungan dengan anak
kuliahan, sementara hasan kini statusnya adalah anak kuli payahan di
metropolitan. Kadang keadaan inilah yang mempertekuk lututkan hasan pada
pilihan kepasrahan untuk membiarkan nurmala bahagia dengan orang lain. Sekali
lagi, nurmala bukanlah gadis yang mementingkan status sosial, ia selalu
memotivasi hasan untuk memperjuangkan cintannya. Karena ia tau, bahagia adalah
bersama dengan orang yang berhasil membahagiakan hatinya, bukan membeli
kebahagiaan hatinya dengan harta ataupun keserba adaan.
Setahun
hasan giat bekerja mengumpulkan uang demi bisa mengecap perguruan tinggi
tentunya juga demi gadis yang ia perjuangkan. Selama setahun ia bekerja di
swalayan sebagai kasir, dari jerih payahnya inilah ia bisa menyisihkan uang
untuk kuliah.
Hari
itu adalah hari pendaftaran kuliah, dengan modal tekat dengan diboncengi nekat
ia mendaftar kuliah. Alhasil dia bisa diterima di perguruan tinggi negeri. Tapi
apa daya uang yang ia sisihkan untuk kuliah dari hasil jerih payahnya tak bisa
menebus untuk biaya pendaftaran ulang. Ia pun dikejar-kejar bingung, haruskah
ia kuliah ? sementara uangnya buat daftar ulang pun tak cukup. Ia hanya
berserah pada Tuhan, minta petunjuk jalan terbaik. Keesokkan harinya ia pergi
ke bank untuk melakukan pendaftaran ulang dengan sisa uang kurangnya pinjam
dari temannya, tak disangka pihak bank mengkonfirmasikan bahwa ia termasuk
salah satu penerima beasiswa jadi tak usah membayar uang pendaftaran ulang.
Betapa senangnya hati hasan, bahwa ia kini bisa merasakan bangku perguruan
tinggi. Harapan untuk pembuktian pada orang tua nurmala masih ada. Pegang
teguhnya meyakinkan diri.
Untuk
menunjang kebutuhan sehari-hari sehabis kuliah, hasan bekerja dengan pamannya
sebagai tukang jualan buah. Lelah memang kadang menjangkit tubuhnya tapi inilah
pilihan hidupnya, untuk memegang komitmen dan memelihara komitmen itu agar tak
punah dengan keluhan hidup. Ia tak mau menggantungkan nafasnya pada keluarganya
di kampung, ia ingin mandiri untuk menggadaikan keringatnya demi keberhasilan.
Ia ingin membuat melek ibunya nurmala, bahwa anak seorang petani pun mempunyai
keberhasilan setara dengan anak-anak profesi apapun. Ia yakin Tuhan tak akan
pilih kasih dalam pada nasib setiap hamba-Nya, tak memandang apapun sebuah
profesi orang tua dimana anak tersebut dilahirkan.
Nurmala,
seorang gadis yang selalu mendonori semangat dalam setiap menaklukkan kerasnya
hidup. Dan nurmala juga, cahaya yang menyinari kala gairahnya mulai meredup.
Maka ia yakin dialah gadis yang pantas ia perjuangkan. Perjuangkan dengan
komitmen, dimana jarak tak akan memacetkan jalan cintanya. Cinta tunggal pada
sesama yang tak pernah ia duakan, dan cintanya juga yang tak pernah ia gadaikan
setianya untuk orang lain.
Nurmala
memang kuliah setahun lebih dahulu dari Hasan, artinya ia akan lulus lebih
dahulu dari Hasan. Itu terjadi, setelah menyelesaikan 4 tahun studinya nurmala
lulus dengan prestasi yang membanggakan. Betapa senangnya orang tuanya
memandang anaknya lulus dengan predikat salah satu lulusan terbaik di
universitasnya. Harapan orang tua melihat anak pertamanya menjadi sarjana
terbaik tercapai, dan sebentar lagi ia akan jadi guru. Seperti itu angan yang
terlintas dari orang tuanya. Tak lama kemudian ia pun menjadi seorang guru di
salah satu SMA di kampungnya.
Penantian
nurmala pada hasan tak menjenuhkan cintanya sedikit pun, ia setia menunggu
hasan dalam menyelesaikan studinya. Karena ia yakin dialah sosok yang mampu
membahagiakan hatinya.
. . . . .
Sepi
merasuk dalam suasana, di dapur suara penggorengan pun mengusir suasana sepi
itu.
“Ibuuuu......
cobain deh masakan nurmala? Pasti ibu suka?” teriaknya
“
Iya enak tapi terlalu asin” apa kamu pingin mau nikah ya? Ledek ibunya.
“Akh
ibu, nurmala kan baru saja lulus masa’ pingin cepet nikah” ambegnya.
“
Tadi malam ibu sudah rembugkan sama bapak, kita sudah sepakat untuk menjodohkan
kamu dengan anak temen bapak kamu. Orangnya ganteng, dia seorang polisi. Kamu
kan sudah cukup berumur, usiamu sudah 23 tahun. Itu sudah termasuk usia cukup
seorang wanita untuk nikah” jawab ibunya
dengan serius.
“
gak bu, nurmala hanya ingin nikah pada sosok yang nurmala cintai” tegasnya.
“Maksudmu
sama hasan? ia hanya anak seorang petani, apa yang kamu banggakan pada sosok
seperti dia. Mau beri makan apa anak-anakmu nanti” omel ibunya.
“Apakah
harta akan memberi kita bahagia bu? Apakah harta bisa membeli kebahagiaan? Dan
apakah status sosial penghambat kebahagiaan bu?” rintihnya.
“Gak,
pokoknya kamu harus nikah dengan anak temen bapak kamu. Ibu tak memaksa
waktunya yang penting kamu siap nikah dengannya” tegas ibunya.
“Nurmala,
ingin tanya. Apakah ibu nikah dengan bapak, bapak anak orang kaya?” aduhnya.
“Jaman
dulu kan beda, dengan jaman sekarang. Ibu gak mau tau kamu harus nikah dengan
pemuda itu” bentak ibunya.
Tak
ada jawaban lagi pada gadis itu, ia langsung lari ke kamar menumpahkan segala
tangisnya pada ketidak adilan. Hatinya dijajah bingung apa yang akan ia katakan
pada hasan kalau ia tau. Apakah ia akan tega cinta yang dirawat selama 5 tahun
begitu saja ia akan berikan pada orang lain. Dihatinya hanya ada hasan, ia tak
akan pernah tega dengan pejuangan hasan selama ini. Dan yang paling meneror
hatinya adalah apakah dia sanggup pura-pura bahagia dengan orang bukan
pilihannya. Bingung itulah episode dalam hatinya saat itu.
Ia
pun menceritakan kejadian itu pada hasan, tapi nurmala meyakinkan hasan bahwa
cintanya untuk dirinya. Ia akan berjuang bersama hasan untuk meyakinka orang
tuanya. Tak dipungkiri keadaaan dilematis menerpa hasan.
“Jika
bahagiamu bukan sama aku, aku rela melihat senyummu dengan orang lain. Asal restu
orang tua memberimu” tanya hasan.
“Dimana
aku akan bahagia, jika aku hanya sanggup berpura-pura tersenyum dengan orang
lain” jawab nurmala.
“Tapi
apakah orang tuamu akan bahagia, melihat pendamping hidup sosok seperti aku?”
tanya baliknya.
“kamu
jangan ngomong seperti itu. Kita berjuang bersama meyakinkan orang tuaku.
Ketahuilah jangan memaksa aku bahagia dengan orang lain, jika bahagiaku hanya
untukmu” imbuh nurmala meyakinkan hasan.
Hari
berotasi ke hari, dan saat itu kejadian pun telah tiba. Dimana rombongan dari
teman bapaknya nurmala datang ke rumahnya untuk menanyakan perihal tunangan
anaknya.
“Nurmala.....
sini nak?” Panggil ibunya.
“Yaaaaaaaa...
buu” sautnya.
“Kenalin
ini Rendi. Calon tunanganmu. Dia kesini bersama rombongan untuk menanyakan perihal
tentang tunangan dengan kamu” jelas ibunya.
“apa?”
kagetnya
“iyaa..
seperti yang ibu ceritakan beberapa hari yang lalu” ingatin ibunya.
“aku
tidak bisa menjawab sekarang bu, beri aku waktu untuk memutuskan” imbuhnya.
“berapa
hari?” tanya Rendi
“tiga
bulan” jawab nurmala
“Yauda,
aku tunggu” rendi menyanggupi.
Ia
langsung ke kamar, karena baginya kamarlah tempat yang mau mendengarkan
curhatannya. Ia tumpahkan segala kesedihannya. Ia mendemo pada sunyi, seakan
hidup ini tidak adil. Seakan hidup ingin memaksakan bulan dengan mentari, yang
akan pernah sanggup untuk bersatu. Ia selalu berdo’a pada Allah, agar memberi
jalan terbaik pada keputusannya.
Ia
pun keluar dari kamar, dan ia menghampiri bapaknya yang lagi nonton tv di ruang
tamu.
“Nurmala,
ingin tanya pada bapak. Apakah air dan minyak sanggup bersatu walau dipaksakan
bercampur?” tanyanya.
“Air
dan minyak tak akan bersatu. Kenapa kok nurmala tanya begitu?” jelas bapaknya
sambil penasaran.
“Begitu
pun nurmala pak, nurmala tak akan pernah bahagia jika dijodohkan dengan bukan
pilihan nurmala. Walau pun bapak memaksa, nurmala tak sanggup untuk
berpura-pura bahagia. Apa bapak akan tega melihat itu?” jawabnya sambil
berkaca-kaca bola matanya.
“Iya
bapak merasakan apa yang kamu rasakan. Bapak juga tau cintamu hanya untuk
hasan. Bapak juga sebenarnya tak memaksakan perjodohan ini. Tapi ini kemauan
ibumu. Kamu tau sendiri kan watak ibumu?” jawab bapaknya.
“Makanya
nurmala bilang sama bapak. Karena nurmala tau ibu keras kepala. Ku harap bapak
mau meluluhkan hati ibu untuk nurmala. Andai bapak tau bahwa Hasan disana lagi
berjuang menyelesaikan studi sarjananya, karena ia selalu ingat kata ibu bahwa
tak memperbolehkan anaknya berhubungan dengan anak bukan kuliahan. Pasti bapak
juga pernah merasakan seperti itu. Ku harap bapak mengerti.” Jawabnya.
“Iya
bapak mengerti, bapak akan coba membujuk ibumu. Bapak juga tak tega melihat
anak bapak nangis terus”. Bujuk bapaknya sambil menenangkan nurmala.
Malam
hari bapaknya melihat pintu kamar nurmala membuka, ia menghampiri dan melihat
nurmala tidur terlelap. Bapaknya melihat buku diary yang terbuka ia pun
membacan tulisan tersebut...
Aku ingin seperti mata air,
mengalir untuk menjumpai mata air
yang lain untuk bersatu,
Maka jangan paksakan aku menyatu
dengan minyak,
karena walau bagaimanapun aku tak
bisa menyatu,
bahkan tersenyum. . .
Mengertilah kemurnian mata air
untuk siapa.
Jangan paksakan...
Membaca
tulisan tersebut hati bapaknya langsung terhenyap, dan semakin tau ketulusan
hati anaknya untuk Hasan. Bapaknya pun mebawa buku tersebut untuk dilihatkan
pada ibunya.
“
Lihat bu, tulisan ini cari tau maknanya. Ini tulisan nurmala” suruh bapaknya.
“Nurmala,
aja lebay pak....” acuh ibunya.
“Ibu,
ku harap ibu mengerti. Sekarang bukan jaman siti nurbaya. Biarlah nurmala
bahagia dengan pilihan hatinya. Jangan diskriminasi dengan anak bu, ibu juga
dulu nikah dengan bapak juga bapak statusnya bukan anak orang kaya. Bapak
seperti sekarang karena jerih payah bapak sendiri” jawab bapak sambil
menyadarkan ibu.
“Tapi
ibu sudah berjanji pada rendi pak, jangan buat malu keluarga kita” ujar ibu.
. . . . . .
Beberapa
bulan berlalu, hasan pun berhasil menyelesaiaka studinya. Ia juga merupakan
lulusan terbaik dan kini ia dijadikan sebagai asisten dosen. Ia pun pulang ke
kampung untuk membuktikan pada orang tua nurmala, selama ini hasil jerih
payahnya. Membuktikan bahwa anak petani yang ia cemooh bisa menjadi orang
sukses.
Hasan
datang ke rumah nurmala, ia heran di depan ada mobil. Ia pun bergegas masuk ke
rumah nurmala. Betapa ia terkejut bahwa ia datang bertepatan dengan lamaran
rendi kepada nurmala. Tapi ia belum telat bahwa nurmala belum menyatakan
kesanggupan atas lamaran itu. Dilematis dalam pilihan nurmala, tapi ia
memperjuangkan cintanya Hasan. Ia menolak lamaran rendi. Ia meyakinkan ibunya,
bahwa hasan selama ini berjuang demi membahagiakan dirinya. Ia pun memberi
lembaran kertas seperti apa yang ditulis di buku diarynya.
Aku ingin seperti mata air,
mengalir untuk menjumpai mata air
yang lain untuk bersatu,
Maka jangan paksakan aku menyatu
dengan minyak,
karena walau bagaimanapun aku tak
bisa menyatu,
bahkan tersenyum. . .
Mengertilah kemurnian mata air
untuk siapa.
Jangan paksakan...
Ibunya
pun melinangkan air matanya, dan menghampiri nurmala untuk memeluk anaknya.
“Ibu
udah tau tulisan ini, dari bapakmu. Maafkan ibu, ibu sekarang tak akan
memaksamu nikah dengan orang lain. Ibu mengizinkan kamu nikah dengan pilihan
kamu. Ibu baru sadar selama ini hasan berjuang demi membahagiakan kamu dan ibu
menilai salah tentangnya” Imbuh ibunya sambil tersedu.
“Bener
ibu, merestui aku nikah dengan hasan?” tanya nurmala
“He’emmm”
jawab ibunya yang masih tersedu.